Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian
Awal dirumuskan, Pancasila, sebagaimana dikatakan oleh, Bung Karno , adalah jiwa sesungguhnya dari Bangsa Indonesia. Ia adalah karakter yang secara nativ menempel pada diri orang yang lahir, besar dan bertumbuh di Indonesia. Tindakan yang dilakukan itulah yang kemudian dirangkumnya dalam nama Pancasila.
Sebagai falsafah negara, Pancasila selalu ditafsiri dalam bentuk pemahaman idiologis, dengan kalimat yang mengernyitkan kening, terkesan tua, dan kurang up to date. Akibatnya pesan moral yang begitu adiluhung itu tidak tersampaikan secara baik kepada generasi milenial, sehingga kerusakan mental dalam bernegara sudah dimulai sedari dini.
Gambaran tentang bobroknya mental di usia muda mudah ditelusuri di kanal you tube, dengan dalih content creator. Sedih sekali, melihat siswi SMP bertarung jalanan dengan rekannya kemudian direkam dan disebarluaskan. Sungguh pula tak terbayangkan bagaimana bisa mandi diatas sepeda motor keliling jalanan?
Paling fenomenal adalah saat melihat anak - anak SMK dari Jabodetabek yang ikut berdemo hasil Pilpres, hanya dengan koordinasi via WA, padahal banyak diantara mereka yang belum mempunyai hak pilih.
Contoh tafsir tua Pancasila dimaksud adalah memberikan anjuran sebagaimana discreenshot dari laman bpip.go.id ini.
Sebetulnya dapat dinarasikan menggunakan bahasa yang lebih muda, misalnya, "Gaes, membangunkan orang sahur dapat dilakukan dengan banyak cara, tergantung lingkungan apakah kegiatan itu diterima. Gak harus dengan teriak sekencang - kencangnya pake TOA masjid. Kan mengganggu juga..".
Contoh penguatan aktual seperti ini dapat diberikan dalam bentuk poster-poster untuk ditampilkan dalam media sosial atau video.
Dan yang penting lagi, terus menerus disampaikan. Istilahnya di viralkan, sehingga mampu mengendap secara instant dan diharapkana segera merubah perilakunya.
Agar tidak melenceng dari makna filosofisnya maka BPIP dapat merumuskannya untuk memperoleh standar perilaku yang sama.
Simpulan
Tafsir aplikasi Pancasila harus dilakukan secara kekinian dengan menggunakan contoh - contoh aktual menggunakan beragam media secara on line dan offline adalah bentuk upaya mengurangi degradasi moral anak muda sesuai falsafah negara.
Komentar
Posting Komentar