Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2022

ADA APA DENGAN BUNGA

"Memangnya kenapa ?" tanyaku penasaran. Sambil membetulkan maskernya ia berbicara pelan. Begitu pelannya hingga aku harus memintanya mengulangi lagi kata - katanya. "Ya, nggak enak sama teman-teman, pak." "Bunga lagi, bunga lagi..." katanya. ------- Potongan pembicaraan dengan belia berparas cantik itu begitu membekas. Mak jleb gitu. Ia yang sangat teacher loveable begitu gundah, ketika teman-temanya menyindir pemilihan dirinya untuk mengikuti banyak kegiatan  oleh para guru di sekolah. Encer otak yang dipadupadankan dengan perilaku yang baik tak mudah didapat. Segala yang terumus dalam profil pelajar pancasila, barangkali benar - benar ada, bukan sekedar imaji semata. Karena semua ada di diri Bunga. Tentu lebih mudah menjatuhkan pilihan kepadanya dari pada bersusah payah mencari, menggosok, dan menciptakan karakter baru dari ratusan siswa lain. Padahal, seharusnya tidak begitu. Sekolah Mencari Bakat, sebagaimana ajang pencarian bakat di televisi itu, adal...

Menjadikan Rumah Ibadah Yang Ramah Anak

Gambar
Lebih 30 tahun lalu, kami para bocil, begitu tergila – gila menjadi penabuh bedug di sebuah Langgar di gang Jenitren. Gang tempat tinggal kami di kota Kediri. Bukan penabuh bedug yang memukul kentongan bertalu – talu, karena merupakan wilayah kekuasaan almarhum Pak Mbang  untuk hanya dan selalu dia yang memukulnya, melainkan bedug sebagai dimulainya sholat. Cukup dua kali pukulan. Sekencang kencangnya. Dan, untuk bisa menerima tongkat pemukul kentongan dari Pak Mbang, kami harus berebut dengan teman – teman. Sebuah kebanggaan bisa memukul kentongan saat waktu sholat itu tiba. Bahkan kami pun rela bangun pagi menjelang tahrim dilantunkan, agar bisa memperoleh kesempatan memukul kentongan kebanggan itu. Hanya duhurlah kami absen, karena harus bersekolah di pagi hari. Efeknya adalah kami para bocil menjadi tertib untuk selalu mengikuti sholat berjamaah di langgar itu !  Pemandangan pengurus takmir yang kejam dan selalu menyabetkan kopiah atau sarung kepada anak – anak...

Sebutlah Namanya Dengan Benar dan Bangga

Keberadaan agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu bukanlah sebagai pelengkap agama Islam. Kebetulan saja pemeluk Islam di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka. Jumlah pemeluk yang lebih dari80% tak lantas membuat seolah - olah di Indonesia ini hanya ada dikotomi  muslim - non muslim. Nama, mengandung arti, ada doa dan penghormatan bagi mereka yang mempercayainya dalam menyebutnya. Maka tatkala kita menyebutnya, sesungguhnya adalah penghormatan bagi pemeluknya. Penyebutan nama itu  juga menegaskan keberadaan agama itu ditengah masyarakat.  Dalam konteks lainnya, nama merupakan brand. Melekat juga atribut yang menyertainya. Brand Awareness yang positif  akan memberikan dampak yang baik bagi obyek tersebut, dalam hal ini agama. Kasus teror bom, yang pelakunya beragama Islam, membawa stigma buruk dan ketidakpercayaandiri saat ditanya apa agamanya. Persis sama jika ditanya siapa orang-orang kaya yang merujuk pada etnis tertentu saat menyebutny...