ADA APA DENGAN BUNGA
"Memangnya kenapa ?" tanyaku penasaran.
Sambil membetulkan maskernya ia berbicara pelan. Begitu pelannya hingga aku harus memintanya mengulangi lagi kata - katanya.
"Ya, nggak enak sama teman-teman, pak." "Bunga lagi, bunga lagi..." katanya.
-------
Potongan pembicaraan dengan belia berparas cantik itu begitu membekas. Mak jleb gitu. Ia yang sangat teacher loveable begitu gundah, ketika teman-temanya menyindir pemilihan dirinya untuk mengikuti banyak kegiatan oleh para guru di sekolah.
Encer otak yang dipadupadankan dengan perilaku yang baik tak mudah didapat. Segala yang terumus dalam profil pelajar pancasila, barangkali benar - benar ada, bukan sekedar imaji semata. Karena semua ada di diri Bunga.
Tentu lebih mudah menjatuhkan pilihan kepadanya dari pada bersusah payah mencari, menggosok, dan menciptakan karakter baru dari ratusan siswa lain.
Padahal, seharusnya tidak begitu. Sekolah Mencari Bakat, sebagaimana ajang pencarian bakat di televisi itu, adalah tempat yang tepat.
Setiap siswa pasti memiliki keistimewaan tertentu yang harus ditemukan oleh para pendidik. Tabir yang harus disingkap itu memang tak mudah karena memerlukan pengamatan dan kedekatan satu sama lain. Bunga menuturkan ada banyak teman-temannya yang menurutnya sekualifikasi dengannya.
"Ada Nisrina, Qonita, atau Intan, lho pak". Katanya pelan.
"Ubayd, juga, Bunga..."kata saya
Sekolah tak harus menghasilkan nilai akademis semata, tetapi juga non akademis. Sehingga penting bagi guru untuk menemukan hal terbaik dari siswanya.
Saya teringat Fauzi, tak seorangpun menyangka, anak sebengal, semalas, dan selalu bawa Antimo siap minum saat pelajaran Matematika, adalah ecopreneur of the year tahun 2017 tingkat SMP se Surabaya. "Keunggulan" dia adalah kesediaannya mencari dan mengolah sampah tanpa jijik.
Mobil yang kami tumpangi telah sampai di dalam sekolah.
Sebelum naik ke kelas, padahal ia punya privelege untuk tidak mengikuti pembelajaran setelah kegiatan, ia berlari ke arahku dan salim dengan takdim
"Terima kasih, pak. Sudah merepotkan.." bisiknya.
Ah.. Aku tak tahu, apakah air hujan atau air mata yang turun. Rasanya sama-sama panas.
---------
Sby, 20/10/2022
Catatan : Ia, Bunga Cahaya Kamila, siswa kelas 8G yang menolak pindah sekolah meski harus pindah kos di daerah Sukomanunggal Surabaya
Komentar
Posting Komentar