MEMBUAT ASSESMEN AWAL DIAGNOSTIK NON KOGNITIF

Tidak dipungkiri, kondisi PJJ membuat dunia pendidikan juga terdampak hebat. Pendidikan tak lagi mengejar kompetensi, melainkan cara bertahan hidup/life skill. Dalam mencari bentuknya, beragam kesulitan menghadang pelaku – pelaku pendidikan. Tak hanya guru, dan orang tua, siswapun demikian. Mereka merupakan pihak yang secara langsung mengalami kesulitan pendidikan. Secara generik, kesulitan yang dialaminya sama. Mulai ketidakadaan gawai, susah sinyal, tak ada paketan, dan lain – lainnya, sedangkan dari fakor pskikologis juga diketahui betapa kemandirian yang harus dimiliki dalam PJJ kurang ditumbuhkan oleh lingkungan. Panduan belajar dari rumah yang dikeluarkan oleh Kemdikbud memberikan gambaran bagaimana meminimalisir hambatan dalam PJJ

Proses diagnosa dimulai dari diagnostik non kognitip, berupa pengumpulan informasi mengenai kesiapan orang tua, tentang rencana pelaksanaan PJJ di sekolah. Tahapan ini semestinya sudah dilaksanakan diawal pembelajaran secara umum di sekolah masing – masing. Tujuannya adalah menyampaikan kepada orang tua bagaimana pendidikan akan dilaksanakan. Sehingga sudah diketahui pesebaran alat PJJ di siswa berupa HP, komputer, televisi maupun radio.

Tahap selanjutnya setelah komunikasi dengan orang tua dalam lingkup yang umum dan luas, guru dapat melaksanakan diagnostik non kognitip lanjutan untuk siswa – siswa yang akan mengikuti pembelajarannya. Pemberian motivasi, membangun kesepakatan, durasi pembelajaran dan menggali hal – hal baru yang mungkin berpotensi menjadi hambatan pembelajaran

Secara konseptual, kegiatan diatas telah dilakukan secara sederhana di sekolah kami, dengan tujuan utama mempersiapkan guru, siswa dan orang tua menjalani PJJ. Dalam perjalanannya setelah beberapa pertemuan, ditemukan kelas yang tingkat partisipasi kehadirannya sangat rendah. Anomali itu jelas menimbulkan pertanyaa bagi penulis. Asumsi awalnya adalah karena pada jam pembelajaran yang dilaksanakan addalah jam siang (12.30). Namun, ini terbantahkan, karena pada kelas yang lain, pada jam yang sama tingkat kehadirannya masih dapat diterima.

Berikutnya, tentang mata pelajaran. Apakah model pembelajaran kurang menarik siswa. Padaha media pembelajaran yang digunakan adalah sama. Yakni berbasis multimedia, dengan harapan bisa menjangkau karakteristik belajar siswa yang audio, visual, maupu kinestetik.Hasilnya ? tetap tidak berubah ! Ketidakhadiran tetap tinggi. Upaya meng “halo – halo” siswa untuk aktif di pelajaran lewat wali kelas sudah dilakukan, dengan hasil yang tidak memuaskan.

Maka disusunlah sebuah perencanaan asmen dalam bentuk cek list di bawah:

Cek list

a.       Kelas yang diasesmen

IX

b.      Materi pelajaran

PPKN

c.       Kapan dilaksanakan

15/10/2020

d.      Dimana dilaksanakan

Di rumah

e.       Bagimana cara asesmen dilakukan

-          Menggunakan WA Grup siswa,

-          Teams kelas

Modifikasi Buku-saku-Asesmen-Kognitif-Berkala, kemdikbud RI,2020

Asesmen dilaksanakan dengan sebagai berikutt

1.      Bergabung dengan grup WA siswa cara meminta kepada wali kelas untuk memasukkan penulis ke dalam grup WA siswa. Grup WA siswa dipilih karena keikutsertaan siswa nyaris 100 %, sehingga diasumsikan dengan mengadakan komunikasi lewat chat WA akan diperoleh informasi awal bagaimana pembelajaran akan dilakukan.

2.      Menjadi Admin grup. Ini dimaksudkan agar, komunikasi bisa berjalan dua arah. Ada aturan yang harus dipahami saat kapan siswa diperbolehkan mengeluarkan pendapatnya. Dengan menjadi admin grup, yang diperkenankan mengupload chat hanyalah penulis sendiri. Informasi awal yang harus dibaca dan dimerngerti siswa tanpa harus disela chat yang tidak perlu

3.      Mengajukan pertanyaan yang memancing siswa untuk secara lebih jujur dan berani mengeluarkan pendapat

4.      Memberikan materi lewat Grup berupa video dari You Tube dan pertanyaan

5.      Analisis lanjutan

 

Dari hasil diagnosis awal diperoleh beberapa temuan menarik diluar masalah generik diatas, sebagai berkut :

1.      Siswa kesulitan untuk unggah foto melalui LMS sekolah. Foto diri yang diambil menggunakan kamera depan sering mempunyai ukuran yang besar. Sehingga saat aplikasi akan mengambil data yang sudah disimpan memerlukan waktu relatif lebih lama. Setelah data diperoleh, proses upload juga memerlukan bandwith internet yang besar pula. Berbeda dengan mengirim gambar menggunakan WA, yang secara otomatis mengurangi kualitas gambar sehingga menghasilkan gambar dengan ukuran lebih kecil sehingga mudah dikirim.

2.      Tidak menyukai video con, baik menggunakan zoom atau meet Teams. Ketidaksukaan itu sebetulnya karena belum biasanya mereka untuk menggunakan aplikasi. Ada beberapa setting yang dilakukan sebelum vid con itu dilaksanakan, nah.. beberapa siswa kesulitan untuk mengakses pengaturan ini sehingga tidak bisa bergabung.

3.      Dipotongnya uang saku. “Penghasilan” siswa harus dikurangi karena mereka tidak lagi harus ke Sekolah. Uang saku yang biasa diterima sekarang tidak lagi, sehingga secara psikologis memunculkan rasa malas dan ogah – ogahan. Bagi mereka, hadir atau tidak, toh.. gak dapat uang saku.

4.      Kondisi saat belajar dari rumah yang tidak kondusif, berupa suara – suara yang mengganggu konsentrasi siswa serta adanya orang tua yang menyuruh mereka melakukan hal – hal diluar kegiatan PBM

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI