Menikmati Penjajahan

Masih ingatkah kita dengan, ... Bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan keadilan ?


Frasa yang begitu tegas untuk memberikan kesempatan kepada semua orang/negara agar tidak berada dalam belenggu penindasan atau penguasaan. sehingga penjajahan dengan menggunakan kekerasan dan militer dilarang.

Lalu bagaimana dengan bentuk penjajahan yang lain?

Upaya sistematis yang membuat agar semua orang, atau dalam skala masif negara, yang begitu tergantung kepada 1 sumber daya (baca : monopoli), sesungguhnya layak disebut penjajah.

Saat sebuah obyek berhasil di monopolikan, maka saat itu pula penjajahan dimulai. Efeknya memang tak terasa menyakitkan tetapi hasil akhir berupa kehancuran tetap ada.

Penjajahan itu bahkan bisa sangat menyenangkan, dan memberi kemudahan dalam bidang kehidupan. Bentuknya bisa berupa teknologi, mata uang digital, entertainment, atau produk hedon lain.

Perangkat seluler yang saat ini di gunakan oleh 80% penduduk bumi menggunakan produk dari Google.inc berupa Android. Tanpa Android, atau sedikit dari Apple, kita tak kan pernah bisa se gegempita ini dalam menggunakan internet. Ia begitu membantu dan memudahkan kita dalam kehidupan, terlepas dari fungsi awalnya sebagai pesawat telepon. Lepaskan android dari perangkatnya maka ia akan menjadi benda mati, dan perlahan kehidupan kita akan turut mati.

Manga atau komik Jepang yang menginvasi komik lokal Indonesia yang juga bernasib sama. Gundala, petruk gareng, karya - karya R.A Kosasih bertekuk lutut dibawah goresan Gosho Aoyama, sang pencipta komik Detective Conan. Invasi manga ini jelas tak kan pernah mampu dibendung oleh Jan Mintaraga dan kawan - kawan yang mengandalkan produksi indie, karena yang dihadapinya adalah industri dunia komik.

Perlahan, perlawanan terhadap komik Jepang ini dimulai oleh mangaka Korea dengan memanfaatkan aplikasi seluler dan website yang menyuguhkan komik dengan tema beragam dan gambar lebih nyata serta waktu terbit yang sangat singkat karena dibuat secara digital.

Nasib yang sama mulai dirasakan dalam dunia sinema kita. K drama yang dihadirkan secara ilegal oleh situs -situs streaming mampu menggeser prime time sinetron besutan multivision plus. Tak aneh, kaum muda kita sangat hapal siapa itu Han Ji Pyeung atau Song Joon Ki. Akibatnya tokoh-tokoh sinetron Indonesia barangkali saat ini hanya dikenal masyarakat yang jaringan internetnya buruk.

Skenario nyata dari sebuah penjajahan yang dinikmati dalam keluarga sebagai berikut : adalah seorang Ayah yang asyik ber Zoom dengan teman - teman SMA nya menggunakan laptop dengan Windows 10, ia ditemani istri tercintanya yang saat itu asyik melihat drakor Start Up. Sementara, si sulung masih terpaku menyaksikan episode 10 serial one piece, dan si bungsu berteriak teriak heboh bermain Free Fire dengan rekan se timnya

Itu masih dalam keluarga kecil saya. Belum yang lainnya.

Berapa juta vaksin yang kita pesan dari sinovac? Berapa uang yang dipinjamkan dalam skema multiyears oleh pemerintah RRC untuk membangun infrastruktur ? Adakah selain google classroom dan microsoft 365 yang mampu bersaing dalam PJJ di negara kita?

Bayangkan, dimana Indonesia saat itu? Tak ada sama sekali.

Ah..Barangkali mereka masih berdebat tentang pasal penistaan agama?



Ironis...


Surabaya. 26/02/2021

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI