Mengembangkan Perpustakaan sekolah di masa Pandemi.


Oleh Yudi H

Sebagai sebuah jantung lembaga pendidikan, Perpustakaan  sekolah saat ini nyaris menjadi gudang buku belaka. Berdebu, dengan jumlah koleksi yang tak juga bertambah secara signifkan. Pun tengok koleksi yang dimiliki masih  didominasi Laskar Pelangi atau buku  karangan Tere Liye.

Tak ada kegiatan selain aktivitas peminjaman dan pengembalian buku di awal atau diakhir tahun ajaran baru.

Bagi sekolah yang memposisikan perpustakaan sebagai bagian utama kegiatan belajar mengajar, tentu kondisi semacam ini sangat menyedihkan. Kegiatan berliterasi siswa tak bisa dikembangkan secara maksimal. Tak hanya membaca, kemampuan menulis pun semakin tak bisa digencarkan.

Dibutuhkan kreatitias yang out the box  agar perpustakaan tak berubah fungsi menjadi gudang, yakni dengan memanfaatkan kekuatan utama yang saat ini hampir dimiliki semua sekolah.

Kekuatan dimaksud adalah kemampuan  dalam menyediakan jaringan internet sebagai tulang punggung kegiatan pembelajaran.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan.

1. Katalogisasi buku secara on line. Pustakawan dapat melakukan katalogisasi koleksi secara lebih tertib dengan menggunakan Dewey Decimal System, yang telah terintegrasi dalam SLIM (Senayan Library Management System) https://slims.web.id/sdc/ yang akan memudahkan mengelola koleksi perpustakaan baik secara digital atau manual.

3. Penambahan koleksi. Perpustakaan Sekolah (khususnya menengah)  dapat dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan  dana  BOS.  Selain fisik, perpustakaan dapat pula mengajukan kerja sama pemanfaatan layanan buku elektronik dengan lembaga - lembaga lain yang telah lama berkecimpung dalam dunia perpustakaan. Bentuknya bisa berupa corporate responsibilities, promosi dalam jangka waktu tertentu dan beberapa bentuk kerja sama yang saling menguntungkan. Perpustakaan sekolah dapat bergabung dengan komunitas perpustakaan lainnya. Misalnya  Perpustakaan Nasional. Jaringan ini selain memperkuat perpustakaan sekolah dalam pengadaan buku, juga akan memperoleh pengetahuan baru tentang tata cara pengelolaan buku yang secara reguler diadakan oleh mereka.

4. Menambah judul buku dengan beragam genre yang akan mendorong semangat untuk membaca. Dalam 10 tahun terakhir, pengarang buku remaja sudah jauh lebih banyak, dibandingkan pada medio 90 an, yang barangkali hanya  Hilman Hariwijaya dan Golagong. Sekarang ini penulis dan penerbit indie sangat mudah ditemukan. Seleksi isi buku tentu tetap wajib ditemukan, namun jangan terlalu ketat. Selama tidak ada penggambaran secara vulgar, karya itu sebaiknya tetap diadakan. Inilah yang juga menyebabkan pertumbuhan pembaca buku online meningkat, sebagaimana bisa dilihat pada wattpad, dimana sensor cerita tidak begitu diutamakan.

5. Temu penulis. Penulis, atau pegiat literasi lainnya merupakan narasumber menarik untuk berbagi. Pengalaman mereka dalam proses kreatif dapat disebarluaskan kepada seluruh warga sekolah secara on line. Teknik membaca nikmat, menulis cepat, membaca puisi adalah tema-tema yang dapat dipilih secara rutin.

6. Bedah buku. Siswa dapat berdiskusi dengan rekan-rekannya tentang buku yang mereka baca. Tentang cerita, karakter para tokoh, atau hal menarik lainnya. Sebuah cara yang akan mengasah dan meningkatkan Kemampuan presentasi mereka, yang tentu saja dilakukan secara on line pula.


Surabaya, 24/03/21

Komentar

  1. Saya tertarik dengan kegiatan bedah buku siswa. Wah, keren nih klo bisa dilakukan di sekolah saya

    BalasHapus
  2. Pingin menghasilkan buku karya siswa. Semangat untuk guru SMP. Guru SD agak sulit. Mantap tulisannya pak Yudi. Pingin punya aplikasi perpustakaan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI