Menikah Itu adalah Nasib.
"Ma, Adik bubuk Uti ya.." Permintaan itu membuat hati Fe teriris. Hangat air mata yang mengalir tak kuasa ia bendung. Ia tak mampu menyembunyikan kesakitannya mendengar permintaan itu. Bergetar, dengan suara lirih Fe meminga agar si kecil nanti meminta tolong Utinya agar mengolesi minyak telon ke tubuhnya, agar setelah bangun tidur esok hari badannya menjadi segar. Entah, permintaan kali ini begitu mengusiknya.
Menikahi Laki - laki itu baginya adalah nasib. Sebagaimana bayi yang lahir yang tak tahu kelak akan sebagai apa. Saat memilihnya, ia berharap itu adalah cahaya yang akan membimbimbingnya kelak. Namun setelah 10 tahun berlalu, sabarnya ternyata berbatas. Luka yang ditimbulkan dari pernikahan itu tak pernah bisa diobati.
Kehadiran permata hati dari pernikahannya bukan berarti memberi kesempatan mereka belajar dan saling mengisi diantara keduanya. Imam yang dulu ditunggunya tak juga hadir membimbingnya, malah sebaliknya, pada Fe lah kehidupan berumahtangga senantiasa dihadirkan. Meski serumah, mereka hidup di dunianya masing - masing. Kini disepertiga malam itu penuh harap hatinya mantap untuk memilih takdirnya untuk bertahan dengan sakit hatinya, atau menjadikan anak-anaknya hancur tercerai berai.
Surabaya, 14/02/2021
Komentar
Posting Komentar