SENI BERKULINER #2, MENIKMATI MAKANAN LEWAT CARA PENYAJIAN

Oleh : Yudi H

(catatan : Gunakan tampilan versi web dibawah artikel ini untuk pengalaman interaktif)

Kuliner, memang betul, tak hanya dirasakan lewat indra perasa, ia juga bisa dinikmati lewat mata. Lewat cara penyajiannya yang out of the box, serta penamaan makanan yang unik.

Kali ini saya menikmati sajian kuliner berupa bakso. Terletak di Kecamatan Sukodono, Kab. Sidoarjo. Untuk mencapainya diperlukan waktu kurang lebih 45 menit dari rumah saya. Jauh memang untuk memperoleh semangkok bakso, itupun harus dibantu oleh google maps agar memperoleh lokasi yang tepat. Karena warungnya tidak berada di jalanan utama kota Sidoarjo

Lokasi penjual menempati kios jualan yang tidak terlalu luas. Kurang lebih hanya mampu menampung 15-20 orang dalam sekali duduk. Karena keterbatasan tempat duduk, setiap orang yang mau makan diberikan nomor antrian, menunggu kursi kosong yang telah selesai dipergunakan oleh pembeli sebelumnya. Terbayang rasanya berdiri memandangi orang makan dan berharap mereka segera pergi. Setelah mendapat antrean no 32, kami diberikan daftar menu terlebih dulu untuk dipelajari.

Ada sekitar 7 menu bakso dengan nama yang unik dan aneh. Ada bakso mumet, bakso tusuk biasa, bakso kotak warisan, bakso kejujuran (bakso yang ada kejunya), dan lain sebagainya yang bisa anda lihat di katalog.

Menu tersebut hanya ditampilkan dalam bentuk gambar, sehingga hanya  bisa menduga - duga apa saja gerangan isinya. Jika anda ke sana jangan ragu untuk bertanya isi dari bakso tersebut.

Pilihan kami jatuh pada bakso mumet, karena menurut mbak pelayannya, bakso jenis ini menjadi favorit pembeli. Untuk minuman, kami diberi tawaran es permen karet. 

Setelah pesanan dicatat serta membayar harganya, kami dipersilakan masuk untuk mencari tempat duduk yang tersedia. Jika sudah dapat, maka pesanan akan diproses. Sementara kami menunggu (dan tentu memandang para pembeli yang sedang makan itu) pembeli lain terus berdatangan. Antrianpun mengular.

Masa pandemi dibatasi hanya 10 pengantri, lebih dari itu mereka disarankan untuk take home. Rupanya warung inipun juga menetapkan protokol kesehatan untuk menjaga jarak dan mengurangi kerumunan. Jarak jalan dengan warung ini nyaris 0 meter. Sehingga tidak memungkinkan untuk memarkir mobil dibadan jalan karena pasti akan menimbulkan kemacetan karena lebar jalan hanya 5 meter.

Setelah 15 menit berdiri, kami memperoleh tempat duduk untuk 6 orang meski agak terpisah, yang ternyata menyulitkan karena untuk makan bakso ini diperlukan jarak dekat.

Pesanan kami datang. Dalam sebuah wajan, ya wajan, disajikan masing - masing untuk 6 orang. Di dalamnya terdiri dari 2 gulungan udang yang dibalut daging, 2 tahu bakso, 2 pentol bakso, 1 pentol bakso ukuran besar 1 iga, mie, dan beberapa irisan daging bakso. 

Bakso wajan itu disajikan dalam 2 pilihan kuah. Merah untuk memperoleh kuah super pedas, atau Putih untuk kuah tak pedas.  Kami masih terbengong dengan porsi yang disajikan itu. Bagaimana pula cara menikmatinya sedang lokasi tempat duduk kami tak bersebelahan ?

Tak lama kemudian, pelayan terakhir yang membawakan minuman menanyakan kepada kami apakah perlu tambah mangkok ? Ternyata sekalipun berwadah wajan, kami tetap diberikan tambahan mangkok untuk menikmatinya.  Bakso ukuran jumbo tentu harus dibagi menjadi beberapa bagian hingga mudah dimakan. Demikan pula untuk iga yang harus dipisahkan dari tulang, atau jika suka, bisa langsug dimakan tanpa perlu repot menyisir dagingnya. Rasanya sepadan dengan proses untuk memperolehnya sekalipun tak bisa dibilang zuperr..

Pengantri terus berjejeran. Berpasang mata melihat kami makan dan itu sungguh sangat tak nyaman...  

Untuk videonya bisa dilihat pada tayangan  berikut :

`
Sumber https://www.youtube.com/watch?v=GPVl_BGzSy0
 

Sidoarjo, 13/03/2021

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI