SENI BERKULINER, MENIKMATI MAKANAN TIDAK HANYA DARI SISI RASANYA
oleh : Yudi H
Dimulai dari mata lalu turun ke mulut.
....................................................
Pada mata inilah mulai awal makanan sudah dibuat untuk menggoda, lewat tampilan fisik atau sajiannya. Dari pewarnaan makanan misalnya, warna-warna terang cenderung di respon oleh otak lebih cepat. Juga tentang bagaimana makanan itu disajikan. Garnis, atau hiasan makanan yang diberikan oleh seorang chef, dibuat untuk memberikan rangsangan kepada calon penikmat.
Inilah seni pertama dalam menikmati makanan.
Bungkus daun dalam makanan sering dikesankan sebagai old fashioned dalam seni ini juga menambah cita rasa masakan itu.
Selain berfungsi meningkatkan selera, upaya mempercantik makanan juga sebuah daya tarik tersendiri, ia menjadi obyek fotografi yang menarik. Food fotografi, istilahnya. Bahkan jika kemampuan fotografinya mumpuni, detil makanan bisa ditampilkan secara artistik. Tak hanya memanjakan mata, tapi juga merangsang air ludah untuk terus diproduksi.
Tak hanya tampilan, proses mendapatkannya pun juga merupakan seni tersendiri.
Pernah mencoba ayam bakar dengan minuman beras kencurnya yang letaknya ditengah persawahan didaerah Pandaan yang cukup jauh untuk mencapainya? Tak hanya lokasi, saat peak season, kita harus mau antre tempat menunggu giliran yang lain selesai makan.
Mereka juga menjual romansa atau kenangan akan suatu hal bagi penikmatnya. Gending sabilulungan sering diputar saat makan siang di restoran atau hotel terkenal di Jawa Timur untuk memunculkan suasana persawahan.
Sebuah resto bakso dan bihun di Surabaya mewajibkan semua pegawainya berbahasa kromo inggil saat melayani pembelinya agar terasa berada di Solo atau Jogja. Tentu saja alunan langgam jawa dihadirkan untuk menjadi tambahan rasa nikmat.
Seni kedua dalam berkuliner !
Dianggap sebagai tujuan akhir dari acara berburu makanan, rasa menjadi pemuncak acara. Rasa, dan ini sangat subyektip, dikatakan nikmat apabila ada kesesuai antara ekspektasi penikmatnya terhadap racikan bahan baku dan bumbu sampai makanan tersebut siap makan berupa perpaduan aroma, tekstur makanan dan rasa makanan itu sendiri.
Karena sangat subyektip itulah para master chef menggabungkan seni seni di atas, sehingga apabila ditemukan ketidaksesuaian, unsur-unsur seni kuliner di atas dapat saling melengkapi.
Seni ketiga dari berkuliner ini adalah perihal rasa.
Maka tak ada lain, menikmatinyapun harus dilakukan dengan cara yang sama. Barangkali dari sisi rasa, biasa saja, tetapi untuk mengantre seporsi perlu waktu 1 jam, maka makanan tersebut bisa kita sebut enak.
Surabaya, 6/3/21
Mereka juga menjual romansa atau kenangan akan suatu hal bagi penikmatnya. Gending sabilulungan sering diputar saat makan siang di restoran atau hotel terkenal di Jawa Timur untuk memunculkan suasana persawahan.
Sebuah resto bakso dan bihun di Surabaya mewajibkan semua pegawainya berbahasa kromo inggil saat melayani pembelinya agar terasa berada di Solo atau Jogja. Tentu saja alunan langgam jawa dihadirkan untuk menjadi tambahan rasa nikmat.
Seni kedua dalam berkuliner !
Dianggap sebagai tujuan akhir dari acara berburu makanan, rasa menjadi pemuncak acara. Rasa, dan ini sangat subyektip, dikatakan nikmat apabila ada kesesuai antara ekspektasi penikmatnya terhadap racikan bahan baku dan bumbu sampai makanan tersebut siap makan berupa perpaduan aroma, tekstur makanan dan rasa makanan itu sendiri.
Karena sangat subyektip itulah para master chef menggabungkan seni seni di atas, sehingga apabila ditemukan ketidaksesuaian, unsur-unsur seni kuliner di atas dapat saling melengkapi.
Seni ketiga dari berkuliner ini adalah perihal rasa.
Maka tak ada lain, menikmatinyapun harus dilakukan dengan cara yang sama. Barangkali dari sisi rasa, biasa saja, tetapi untuk mengantre seporsi perlu waktu 1 jam, maka makanan tersebut bisa kita sebut enak.
Surabaya, 6/3/21

Kuliner yang syedaaaap
BalasHapuswaah...mantap baksonya
BalasHapusBisa dibungkus dan bawa ke padepokan ya... Hehehe
BalasHapusPerlu diuncalne neng Driyorejo
BalasHapus