SERAGAM DAN SESUATU YANG TERSEMBUNYI DI DALAMNYA.
Oleh Yudi H
Bukan sekedar fashion, seragam merupakan sebuah identitas yang mana mereka yang mengenakannya akan dianggap sebagai bagian dari komunitas tersebut. Kehadirannya adalah sebagai wakil dari lembaga tersebut. Gambaran tingkatan, simbol eksklusivitas, serta dilakukan untuk kepentingan efektifitas dan efesiensi pekerjaan. Seragam juga sebagai bentuk pendisiplinan dan pengawasan anggotanya.
Karena
mencerminkan lembaga, pemilihan seragam dipenuhi makna – makna filosofis yang kuat.
Seragam doreng yang dikenakan oleh prajurit TNI AD selain fungsionalitasnya
saat berperang di darat, maka doreng yang dipilih adalah warna – warna yang
bisa bersifat kamuflase saat berada di hutan belantara. Demikian untuk
prajurit yang bertugas di perairan , warna yang dipilih adalah warna yang bisa menyatu
dengan kondisi laut atau perairan sekitarnya, sehingga menyulitkan musuh saat
terjadi peperangan.
Kemenkum Ham
pernah memilih warna yang nyaris sama dengan Pakaian Prajurit TNI Angkatan
Udara, yakni Biru muda. Tentu saja tak bisa diklaim bahwa warna
tertentu merupakan representasi dari sebuah organisasi kecuali lambang –
lambang yang dikenakan pada saat memakainya. Sama halnya pakaian seragam Satuan
Pengamanan (Satpam) saat ini yang mirip dengan pakaian dinas Kepolisian sebagai bentuk penghargaan Kepolisiaan kepada tenaga Satuan Pengamanan dalam membantu tugas mereka memberikan layanan keamanan kepada masyarakat
Pemerintah
Kota Surabaya melalui Peraturan Walikota No. 21/2021 menetapkan warna
dan bentuk seragam baru bagi Aparatur Sipil Negara yang berada dalam
naungannya. Ada 2 jenis warna seragam yang wajib dikenakan. Khaki untuk Pegawai
Negeri Sipil dan Putih Hitam bagi Non Pegawai Negeri Sipil pada hari – hari
terentu.
Pemilihan
warna Pemerintah Kota Surabaya ini tak lepas dari warna pakaian yang dikenakan
oleh Presiden Joko Widodo dan para menteri dalam kabinetnya, yang terlihat
lebih menonjolkan efesiensi dalam pemilihan trend dari pada model. Cukup lengan
panjang putih bagi yang laki – laki dan celana hitam. Selain memunculkan aura
kharismatik warna putih, berupa kejujuran dan kesucian. Warna itu juga
mengandung makna hati – hati. Karena nila setitik, akan terus menempel
kemanapun baju dipakai.
Saat Presiden Suharto dan BJ Habibie memimpin,
kesukaannya berpakaian safari digunakan bertahun – tahun
sebagai model seragam layanan publik. Demikian juga saat Gus Dur menjabat,
meski lebih sering menggunakan jas dan berbaju putih dalam kegiatan kenegaraan.
Namun, jka
lembaga itu merupakan lembaga publik, maka seharusnya seragam yang dikenakan
memberikan gambaran netral. Tidak mengesankan sebagai kumpulan orang – orang
dengan idiologi, agama atau golongan partai tertentu sebagaimana dilakukan oleh salah satu SMK di kota Padang dengan mewajibkan siswinya mengenakan seragam yang diidentikan dengan salah satu agama.
Surabaya, 15/03/2021

Komentar
Posting Komentar