Toleransi dan Deradikalisasi dalam Keluarga.


Oleh Yudi H

Hari Minggu 29/3/2021. Sepasang suami istri tewas terkena ledakan bom yang dibawanya menuju gereja di Makasar. Bom yang berisi bahan peledak bercampur potongan paku juga melukai beberapa warga dan jamaah gereja. 

Mereka baru 6 bulan melangsungkan pernikahan.

Tahun 2019, di Sibolga, seorang suami yang lebih dahulu ditangkap Polisi bahkan harus membujuk Istrinya agar menyerahkan diri. Namun  si istri memilih meledakkan dirinya dari pada menyerahkan diri.

Tahun 2018, beberapa keluarga yang terdiri dari anak dan istri juga tewas meledakkan dirinya dengan bom dibeberapa lokasi di Surabaya. 


Keluarga, sesungguhnya adalah tempat deradikalisasi dan bertoleransi yang paling tepat. Anggotanya dapat saling mengisi apabila ditemukan kekosongan pemikiran tentang toleransi. Maka agak mengherankan apabila secara sadar dan bersama - sama merencanakan pengemboman seperti itu.

Membayangkan keluarga teroris yang berkumpul bersama, lalu meracik sebuah bom, dengan penuh kasih sayang  sang ayah meminta agar ditambah paku dalam adonannya, merajang potongan - potongan besi, agar nantinya saat meledak dapat lebih melukai.

Entah dimanakah wujud manusianya saat itu. Karena yang akan menjadi korbannya adalah manusia. Bukan hewan, yang untuk mematikannya pun memerlukan cara yang baik. Terlepas dia itu Kristen, Islam atau bahkan Kafir sekalipun. Mereka tetap manusia.
 
Bukankah akan lebih mak nyus seperti kejadian sebenarnya ini andaikata dalam sebuah keluarga berikut,  seorang ayah  mengajak berdialog putranya sembari meminta  dibantu membersihkan kipas angin. 

Mereka bisa berbincang tentang apa saja. Termasuk konsep-konsep jihad dapat diberikan dengan cara yang nikmat. Jihad tak harus mati. Bidadari pun, jika ingin ketemu, dapat dijumpai saat itu juga. 

Tentu saja wawasan orang tuapun harus terbuka dengan segala jawaban atau pertanyaan yang menggelisahkan. Tak harus menguasai semua jawaban. Malah seharusnya, pertanyaan yang tak terjawab itu dapat bersama - sama dicari jawabnya.

Toleransi, dengan cara sederhana dapat diwujudkan pula dalam keluarga. Jika si kakak sedang zoom, si adik bisa menunggu gilirannya untuk tik tokan. Sehingga suara yang keluar dari HPnya tak akan mengganggu. Contoh sederhana kehidupan bertoleransi tidak harus dipahami secara keras dan sak lek.

Umar Patek, bomber Bom Bali, akhirnya dapat tersadarkan dari paham itu dari keluarganya sendiri.

Surabaya, 1/4/21

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI