Wanita yang dikejar waktu

 Oleh Yudi H


Menjelang subuh, wanita itu sudah berpeluh menyelesaikan tugasnya. Menyiapkan sarapan, menjerang air untuk anak - anak, juga keperluannya sendiri. Bahkan menyiapkan segelas susu untuk si bungsu pagi ini, dilakukannya sambil membangunkan suami dan anak-anaknya yang lain.
.
Sembari memakaikan baju sekolah, ia siapkan bekal sekaligus menyuapi mereka berdua. "Baju, sudah aku siapkan, Yah!" teriaknya saat dilihat sang suami mengaduk-aduk lemari yang ia tata kemarin malam. Disertai nafas memburu serta keringat menetes dari sela sela rambutnya, bagian terakhir dari ritual hariannya adalah merawat dirinya sebelum berangkat kerja
.
Selepas sore, tumpukan baju telah menunggunya, juga tugas si sulung dan abu rokok yang ditinggalkan suaminya. Tangisnya pecah, Ia lelah karena 10 tahun ini tak mampu lagi memacu jiwa dan raganya berlari mengejar waktu. Tak ada tempat baginya untuk berbagi. Menurutnya, perempuan itu bukan sebagai garwo wingking, tapi sebagai sigaraning nyowo, belahan jiwa. Sementara belahan jiwanya yang lain itu tak selalu menghiraukan, bahkan tetap asyik dalam dunianya.

Surabaya, 12/1/2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI