Kesetaraan Perempuan Sejak Dari Kartini Hingga Dian Sastro.
Oleh Yudi H
"Keduanya merupakan maestro di bidangnya. Berani berkeringat untuk membuahkan karya nyata, kemampuan yang masih banyak dikuasai oleh para lelaki".
..................................................
Menjadi orang sukses seperti itu mungkin tak akan terpikir oleh Kartini. Dijamannya seorang wanita adalah warga kelas dua. Ia baru berhak menjadi sesuatu, manakala telah dilakukan terlebih dulu oleh kaum lelaki. Sayang, kematangan berpikirnya hanya sampai batas usia 25 tahun, saat ajal menjemputnya.Tak terbayangkan 300 tahun kemudian keberaniannya menjadi sebuah momen bersejarah
Ketertinggalan wanita memang disengaja. Di jaman raja-raja, kehadirannya bahkan hanya sebagai asesories semata. Bukan saja oleh para pembesar tetapi juga rakyat jelata.
Kekuatan budaya pun juga memaksa mereka agar lebih mendahulukan lelaki, keluarga, baru untuk dirinya sendiri. Maka sungguh mengharu biru manakala Kartini menjemput takdirnya untuk harus menerima pinangan calon suaminya ia mengajukan syarat, tidak mau membasuh kaki calon suaminya pada saat temu pengantin kelak.
Begitu pula saat masa-masa wanita jamannya Dian Sastro menggapai karir, jika ada yang berhasil dipuncak, masih dipandang sebagai suatu keanehan, tidak lumrah. Terlebih lagi jika ia bisa melebihi suaminya. Stigmatisasi sebagai seorang yang abai akan keluarga akan mudah diberikan.
Meski tak ada teks agama yang terang benderang yang menempatkan wanita untuk selalu berada digaris belakang dalam kehidupan keluarga, secara naluriah perempuan selalu memposisikan dirinya pada kedudukan itu, demikian juga sebaliknya. Menjadikan posisi tawarnha menjadi rendah akibat ketergantungannya kepada laki - laki. Buntutnya akan mudah menjadikannya obyek kekerasan, pelecehan, maupun eksploitasi. Belum lagi ditambah dengan kondisi fisiknya yang memang lemah secara kodrati. Belum lagi ancaman kematian dan keselamatan yang mengintainya akibat minimnya sarana layanan kesehatan
Maka tak ada cara lain selain untuk terus menerus mendorong perempuan agar mampu memerdekakan dirinya. Dari stigma, ketergantungan, serta kemampuan untuk berkomunikasi untuk bekerja sama, kompromi antar lelaki dan perempuan, tanpa harus mengorbankan masing - masing pihak. .
Jika sudah berkeluarga, maka perjuangan bersamanya adalah mempertahankan dan menjaga benteng terakhir manusia. Keluarga.
Komentar
Posting Komentar