MENGEMBANGKAN MINAT BACA SISWA DISAAT PANDEMI COVID 19
Oleh FyR
Saat pembelajaran sebelum pandemi, kegiatan berliterasi dilakukan secara reguler dilakukan oleh sekolah untuk memberikan pembiasan membaca dan menulis buku fiksi. Selama 15 menit, sebelum pembelajaran dimulai, mereka dipersilakan membaca buku fiksi dengan genre apapun. Perpustakaan kelas dihidupkan. Lokasi – lokasi tempat berlalulalangnya siswa disediakan buku atau majalah. Penambahan koleksi perpustakaan dengan buku – buku non pelajaran terus diupayakan dengan pengayaan genre dan judul buku.
Bagaimana dikala pandemi ini ?
Mencengangkan manakala melihat index baca masyarakat Indonesia pada saat pandemi ini berada di urutan 59, satu tingkat di atas Botswana, sebuah negara di Afrika yang luasnya hanya 500 ribu Km2, atau membaca data kemampuan Membaca Siswa Indonesia berada di urutan 72 dari 77 negara yang disurvey OECD atau dalam PISA 2020.
Namun terdapat data lain yang dirilis oleh Perpustakaan Nasional sebagaimana dikutip oleh Antara news.com, menyebutkan adanya peningkatan yang signifikan dalam minat baca masyarakat berdasarkan unduhan aplikasi ipusnas lebih dari 1 juta unduhan. Meningkat 50 % dari tahun 2019. Meski kontradiksi, namun ada kesamaannya. Yakni masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.
.Apabila melihat dari sisi “suka membaca” sesungguhnya masyarakat Indonesia luar biasa hebatnya. Platform media sosial twitter mencatat jumlah pengguna harian masyarakat Indonesia sebesar 26 juta orang terbesar no 5 di dunia (Katadata, 2020), bahkan untuk Facebook sudah melampaui 100 juta jiwa dan 63 Juta untuk Instagram (Hootsuit, 2021).
Pertanyaannya mengapa bisa seperti itu ? Bukankah kalau tidak suka (tidak bisa) membaca dan menulis mustahil membuat status, story atau memberikan komentar ?. Proses berliterasi seperti itu sebetulnya potensi untuk lebih menyukai bacaan yang berkualitas yang akan meningkatkan daya pikir maupun nalarnya. Tinggal teknis mengarahkannya.
Tulisan ringkas, sederhana dan disertai ilustrasi menarik serta dibuat interaktif dalam platform media sosial itu mengijinan munculnya tanggapan atau komentar banyak dari pembaca. Misalnya Suara Surabaya, berita kedatangan Tri Rismaharini, mantan Walikota surabaya mengunjungi keluarga awak Kapal KRI Nenggala 402 telah dikomentari oleh 350 orang di Facebook, berita tentang hilangnya sebuah mobil di Pasuruan dan ditemukan di Madura, telah 125.867 kali ditanyangkan dan 113 kali dikomentari. Capaian ini menunjukkan bahwa sesungguhnya pengguna platform tersebut sangat menyukai membaca dan menulis.
Jika dibandingkan negara yang tingkat literasi tinggi, maka sangat mungkin masyarakat Indonesia akan terus dicap sebagai negara yang rendah literasinya. Ini terjadi karena membaca fisik sebuah buku tidak begitu sederhana mengatakannya. Akses buku tidak mudah diperoleh oleh masyarakat Indonesia, dimana keberadaan perpustakaan hanya di ibu kota daerah, belum sampai ketingkat kecamatan.
Sedangkan untuk durasi membaca buku rata – rata hanya 59 menit (kumparan.com, 2019) padahal yang dianjurkan oleh UNESCO adalah 4-6 jam, berbeda apabila dibandingkan dengan penggunakan gadget. Hampir 5,5 jam perhari sanggup dilakukan oleh mereka, nyaris tak pernah lepas dari tangan.
Pemanfaatan gadget untuk mendukung kegiatan literasi menjadi solusi yang menarik. Bahkan secara psikologis siswa tidak dibebani dengan keharusan akses dan memiliki fisik buku. Cukup dalam genggaman maka informasi apapun yang semula dicetak dalam bentuk buku menjadi bentuk digital dapat diperoleh
Pengembangan minat baca dari sekedar membaca informasi sederhana, dapat diubah dengan menyediakan layanan buku digital. Ada cukup banyak pilihannya. Apabila mereka menyukai komik atau cerita bergambar lainya mereka dapat mengunduh aplikasi web toon, atau kakao talk. Meski ada yang berbayar, ada banyak komik yang bisa dinikmati tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Cukup kuota internet.
Platform Wattpad, menyediakan cerita bersambung dari ratusan pengarang – pengarang indie. Merupakan sumber bacaan fiksi yang sangat apik. Bahkan jika tertarik, siswa bisa membuat karanganya sendiri, yang pada saatnya nanti dapat dimonetisasi untuk memperoleh keuntungan dari iklan dari karyanya itu.
Perpustakaan Nasional, lembaga yang keberadaannya menjaga agar gerakan literasi masyarakat Indonesia terus tumbuh, telah meluncurkan layanan ebook melalui aplikasi ipusnas. Sebanyak lebih dari 50 ribu judul sudah disiapkan untuk menambah ghirah membaca. Buku – buku ini telah dikelompokkan berdasarkan klasifikasi Dewey, yang memudahkan para pemustaka untuk menelusuri bahan bacaan yang diinginkan.
Meski secara teknologi sangat dimungkinkan untuk merubah kebiasan membaca kearah yang lebih baik, ada beberepa hal yang harus terus menerus dipupuk dan dikondisikan oleh para pemangku kepentingan di sekolah. Nadiem Makarim, Mendikbud menyatakan ada korelasi positip antara kegiatan literasi ini dengan pembinaan karakter. Menurutnya semakin literat seseorang, maka kemampuan dalam memfilter sebuah informasi akan meningkat. Ia tak lagi menjadi produsen atau pembaca hoax, tapi juga memberikan informasi lain secara jujur dengan kacamata lebih obyektip. Ia juga akan lebih toleran terhadap segala macam perbedaan
Ditingkat sekolah, keberadaan guru – guru yang literat akan mendorong dan memotivasi siswa untuk lebih literat lagi. Bukan sekedar teoritis saja, melain secara nyata dimana guru – guru ini harus mencontohkan kecintaannya dalam berliterasi. Mereka yang berliterasi dalam kurun waktu tertentu akan memperoleh reward menaik yang akan membangun dan memperkokoh kecintaannya dalam berliterasi. Karya – karya mereka dipajang di rak – rak sekolah, diterbitkan dalam media sosial sekolah, serta ditampilkan dalam berbagai even sekolah, bukan sekedar ditumpuk dalam lemari perpustakaan.
Sebagai jantung pengetahuan, keberadaan perpustakaan wajib mempunyai koleksi yang up to date. Jenisnya beragam. Bukan lagi sekedar gudang penyimpanan buku – buku pelajaran yang akan dibagikan, tetapi benar – benar memberikan layanan informasi. Perpustakaan dapat di rebranding menjadi sumber informasi. Perpustakaan adalah Informasi.
Maka membuat perpustakaan menjadi tempat yang lebih mengasyikan dapat mulai sejak sekarang sembari menunggu pandemi beralu. Koleksi digital dan fisik dapat saling melengkapi. Suasana yang mendukung orang untuk berlama – lama di ruangan itu hanya dapat diciptakan apabila perpustakaan didesain secara menarik, yang didukung oleh teknologi dalam pelayanannya.
Terakhir, orang tua sebagai nahkoda keluarga, adalah benteng terakhir agar siswa terpapar kebiasan berliterasi. Mereka juga harus literat, yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Dalam genggaman mereka tak saja infotainment, tetapi juga bacaan bergizi yang menyehatkan pola pikir.
Komentar
Posting Komentar