SENI MEMBACA NILAI RAPOR
Rapot merupakan sekumpulan informasi hasil penilaian prestasi siswa, kondisi siswa, dan catatan guru dalam proses pembelajarannya yang diberikan dalam jangka waktu tertentu. Tujuan utamanya adalah mengetahui sejauh mana perkembangan siswa dalam mengikuti pembelajaran disamping sebagai sarana komunikasi orang tua dan guru.
Capaian pada rapot diperoleh dari kegiatan penilaian pengetahuan terhadap siswa pada tiap tugas dan ulangan serta penilaian ketrampilan. Nilai - nilai itu akan akan diberikan kepada siswa manakala ia telah berhasil menyelesaikannya. Nilai rapot ini juga menjadi indikator berhasil atau tidaknya capaian kurikulum yang dilakukan oleh seorang guru.
Setiap kekosongan penilaian, akan ditelurusi oleh guru pengampu apa yang menjadi penyebabnya. Demikian pula apabila ditemukan nilai yang tidak sesuai dengan syarat minimal. Bagaimana jika tidak tercapai nilai yang ditentukan ? Maka akan diadakan remidi atau perbaikan dengan kandungan soal yang sama tetapi dengan pertanyaan yang berbeda. Apabila masih belum tercapai nilai yang ditentukan, siswa yang bersangkutan akan diberikan perlakukan khusus dalam bentuk perbaikan berikutnya, dengan soal yang lebih mudah, waktu pengerjaan lebih panjang, atau cara lain sesuai dengan kondisi psikologi siswa mengingat setiap siswa mempunyai kemampuan yang dan gaya belajar yang berbeda.
Hanya saja jumlah siswa yang sering diampu oleh 1 orang guru jenjang menengah sering dalam jumlah banyak. Rata - rata untuk 36 jam mengajar dengan 3 jam per minggunya diikuti oleh 300 siswa atau 12 kelas. Bisa dibayangkan untuk mengelola siswa secara individu amat sulit. Interaksi yang ideal mustahil didapatkan diantara mereka. Tambahan lagi waktu mengisi rapot secara on line yang kadang kala dikerjakan secara maraton dalam waktu yang singkat memaksa guru untuk mengambil jalan "pintas".
Target utama mengetahui capaian kurikulum bergeser menjadi penilaian keaktifan siswa. Benar salah dari hasil penilaian (ulangan, tugas, ketrampilan) menjadi sesuatu yang bisa dinomorduakan. Mengingat jauh lebih mudah mengelola mereka yang aktif dari pada memaksakan siswa untuk memperoleh nilai tertentu.Apalagi jika ditambah dengan penetapan nilai Kriteria Ketuntatasan Minimal tertentu, dengan tujuan mendongkrak nilai rerata siswa atau sekolah, maka melihat kemampuan siswa berdasarkan nilai murni yang dicapainya menjadi sulit .
"Pengelolaan" nilai dalam jumlah angka tertentu jelas akan melenakan guru, orang tua bahkan sekolah. Bagaimana mungkin seseorang memperoleh nilai misalnya KKMnya 80, padahal total nilai yang diperolehnya hanya dapat 45 ? Meski tidak menutup kemungkinan ada juga siswa yang memperoleh nilai maksimal. Semakin tinggi KKMnya maka angka perolehan siswapun juga akan semakin besar pula.
Target utama mengetahui capaian kurikulum bergeser menjadi penilaian keaktifan siswa. Benar salah dari hasil penilaian (ulangan, tugas, ketrampilan) menjadi sesuatu yang bisa dinomorduakan. Mengingat jauh lebih mudah mengelola mereka yang aktif dari pada memaksakan siswa untuk memperoleh nilai tertentu.Apalagi jika ditambah dengan penetapan nilai Kriteria Ketuntatasan Minimal tertentu, dengan tujuan mendongkrak nilai rerata siswa atau sekolah, maka melihat kemampuan siswa berdasarkan nilai murni yang dicapainya menjadi sulit .
"Pengelolaan" nilai dalam jumlah angka tertentu jelas akan melenakan guru, orang tua bahkan sekolah. Bagaimana mungkin seseorang memperoleh nilai misalnya KKMnya 80, padahal total nilai yang diperolehnya hanya dapat 45 ? Meski tidak menutup kemungkinan ada juga siswa yang memperoleh nilai maksimal. Semakin tinggi KKMnya maka angka perolehan siswapun juga akan semakin besar pula.
Maka bagi orang awam, ada cara membaca nilai siswa pada rapot yang dibagikan.
Pertama, lihatlah KKM yang ditetapkan oleh sekolah tiap mata pelajarannya. Lalu bandingkan dengan nilai capaian siswa. Semakin dekat dengan nilai KKM, maka sesungguhnya nilai murni yang dicapai bisa tidak sebesar itu.
Kedua lihat komponen nilai pada Penilaian Akhir atau Tengah semester, yang umumnya tidak diadakan remidi, yang hasilnya relatif lebih murni. Ini berbeda dengan nilai - nilai lainnya yang leluasa untuk dikelola. Ulangan harian, Tugas, Portofolio, adalah komponen yang sangat bisa dimaksimalkan untuk memberikan nilai yang dikehendaki.
Maka setelah memahami asal usulnya nilai, masihkah dipandang bahwa rapot merupakan "gambaran" sesungguhnya sebuah proses belajar mengajar lagi ?
Surabaya, 12/04/2021

Komentar
Posting Komentar