Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku.
Paul Zhang, Yahya Waloni, Desak Made, Riziq Shihab serta beberapa youtuber yang mengaku pendakwah dan pengkotbah, andaikata sejenak membaca dan memahami judul diatas, Insya Allah akan merasakan betapa sesungguhnya Tuhan mengingatkan kepada mereka. Tegas dan Lugas.
Memberikan contoh intoleransi mereka kepada anak didik sebagai sebuah fakta yang nyata membuat saya merasa sedih, marah dan tentu juga malu.
Nama - nama diatas pasti pernah melewati masa - masa pendidikan dasar dan menengah, dimana di dalamnya diajarkan, meski konseptual, bagaimana menghormati dan mencintai orang lain, sebagaimana ia mencintai dirinya.
Namun seiring dengan perjalanan kehidupannya disinyalir mereka menemukann pencerahan, berupa kelemahan atas sesuatu yang berada diseberang pendapat mereka.
Penggalian kesalahan itu bukan semata atas dasar kebutuhan akademis, melainkan juga ajakan untuk bergabung dengan cara yang sangat provokatif.
Logika yang sungguh keliru dan menyedihkan, karena bagaimana mungkin menunjukkan jalan yang benar kepada seorang yang tersesat dengan cara dipukuli, dihina-hina dan dicaci seperti itu ? Secara naluriah justru akan membuat mereka defensif dan mustahil hatinya tergerak.
Bandingkan dengan cara yang dilakukan oleh orang ini, dimana saat itu sedang terjadi perang besar, sampai - sampai gigi gerahamnya tanggal terkena lemparan batu. Pipinya berdarah darah tertancap pecahan topi besi yang tak mampu melindunginya.
Tak tega melihat junjungannya begitu sakit dan sangat kepayahan, beberapa sahabat yang memintanya untuk memohon Tuhan agar menurunkan laknat kepada musuh - musuhnya itu. Ia menolaknya meski kuasa untuk itu telah diberikan.
Hasilnya, beberapa pemimpin pasukan musuhnya takluk dan secara sukarela menjadi pengikutnya setelah beberapa waktu kemudian.
Ya, dialah Rasullullah Muhammad, yang konon keteladanannya sering dijadikan alibi oleh orang - orang itu.
Nabi juga tak pernah menghina Tuhan agama - agama lain, bahkan yang tak beragama sekalipun. Sebagaimana Allah telah melarang penghinaan kepada sesembahan - sesembahan agama lain.
Ajakannya begitu lembut. Tidak garang dan penuh kemarahan saat menyebutkan nama Tuhan.
Cobalah gali latar belakang mereka diatas, telah berapa lama mempelajari kehidupan agama mereka. Maka kita akan sadar bahwa sesungguhnya mereka masih harus banyak - banyak belajar, merantau lebih jauh, atau barangkali ngopi yang lebih kental.
Masih jelas Gus Mus ngendikan, Bahwa Tuhan sebelum memerintahkan Nabi melakukan sesuatu, Dia sendiri telah melakukannya. Maka ketika perintah itu turun, nabi pasti telah menerapkan untuk dirinya sebelum disampaikan kepada umatnya.
Maka jika Tuhan sudah melarang untuk tidak menghina sesembahannya, mentertawakan, atau berdebat dengan cara yang kasar, akankah itu tetap dilakukan ?
Islam itu indah nggih Pak...
BalasHapus