Clickbait VS Literasi Digital dalam Membaca Berita di Media
Oleh : Yudi H
... Gara - gara Ahok jadi Komisaris, Pertamina rugi 11 Trilyun Rupiah....
Sungguh, saya bukan seorang Ahokers, bukan pula seorang cebongers, kampreters, atau juga kadruners. Saya hanya prihatin, betapa mudahnya menyalahkan orang lain. Apalagi jika ia dirasa sendirian, minoritas.
Pernyataan yang sebetulnya merupakan clickbait itu diciptakan oleh banyak media masa online. Bahkan mereka yang tergolong media arus utama juga memberitakan judul yang mirip - mirip, namun dengan kalimat, "betulkah?".
Sebagai pegiat literasi, tentu clickbait itu harus diimbangi dengan informasi lain secara seimbang, komprehensif, dengan argumen yang masuk akal. Bukan semata kutipan dari orang yang sebelumya pada kasus yang lain, menyuarakan sesuatu hanya berdasarkan prasangka semata. Jawaban itu saya peroleh dari media sosial lain yang menjelaskan secara sederhana apakah benar itu karena Ahok ?
Diawali dengan premis, jualan pisang goreng, jika harga pisangnya turun, tentu tidak secara otomatis harga jualnya ikut turun. Karena biaya pembuatan pisang goreng terdiri dari banyak hal. Tepung, minyak goreng, gas, dan tenaga kerja.
Sama dengan proses produksi minyak yang jauh lebih rumit, sehingga pada akhirnya bisa menghasilkan harga jual minyak berapa dolar per barelnya.
Hasil riset yang saya temukan menunjukkan faktor - faktor yang mungkin saja, menjadi pembenar mengapa Pertamina bisa merugi sebesar itu.
Perang minyak antara Saudi dan Rusia yang menggenjot produksi minyak diluar kesepakatan negara OPEC membuat kelimpungan negara lain. Ibaratnya, tinggal nancep saja, minyak mereka yang banyak di daratan sudah nyerocos keluar. Beda banget dengan Indonesia yang memiliki kandungan minyak di lepas pantai, dengan biaya eksplorasi yang jauuuhh lebih mahal. Produksi melimpah ternyata tak diikuti permintaan. Maka, sesuai hukum ekonomi, harga itu akan diturunkan agar dapat diserap oleh pasar dengan cara mematikan kompetitornya
Sebagai pemain, mau tidak mau, Pertamina akan menurunkan juga harga jualnya ke pembeli dunia, agar bisa bersaing dengan Saudi dan Rusia. Karena menggunakan kurs dolar, yah... Kerugian itu menjadi fantastis.
Pandemi covid 19 menjadi faktor berikutnya yang mengguncang Pertamina. Kebijakan lockdown yang mengharuskan masyarakat berada di rumah turut serta mempengaruhi konsumsi dan produksi pertamina. Maka duet maut ini menjadi alasan pembenar bahwa pertamina memang layak merugi.
Bagaimana dengan kondisi internal Pertamina ?
Pertamana, sejak 2018 meski tetap mencatatkan untung, keuntungan itu berkurang cukup drastis. Angkanya memang tetap berada di trilyunan rupiah juga. Silakan browsing untuk mengetahui seberapa menurunnya itu.
Kedua, sebagai komisaris utama, yang mewakili pemerintah, apa yang telah dilakukan oleh Ahok?
Kewenangan yang dimilikinya hanya bersifat kebijakan, yang telah direncanakan sebelumnya oleh Direksi Pertamina. Ia juga tak mempunyai pengalamanan mengelola perusahaan multinasional yang mempunyai anak usaha begitu banyak. Maka tanpa ditunjukkan secara vulgar, pada siapa kesalahan akibat kerugian itu, bisa diketahui. Ini yang dibidik oleh media. Ahok adalah sosok yang kontroversial yang mampu untuk mendulang clickbait
Catatan ini adalah contoh bagaimana literasi digital dapat memberikan pemahaman lebih luas, yang tidak hanya berdasarkan prasangka. Sebuah ketrampilan yang sangat penting untuk dikuasai oleh generasi milineal di mana gadget sudah menjadi indera ke 7 dalam kehidupannya.
Surabaya, 10/06/2021
Komentar
Posting Komentar