Murid Cerdas Atau Murid Pintar ?


Oleh Yudi H

Kata cerdas dan pintar memang sering dipertukarkan, meski secara definisi mempunyai makna yang berbeda. Keduanya menjadi tanda keberhasilan sebuah proses belajar mengajar, yang saat ini ditandai dengan angka yang tinggi.

Cerdas menurut KBBI lebih bermakna sikap mental yang adaptif, solutif, dalam bahasa sederhana berarti kemampuan non akademis. Ia lebih serupa dengan anugrah dari Tuhan, yang berkembang bersamaan dengan akal dan budinya. Cerdas juga menunjukkan kemampuan seseorang dalam berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, dan sering kali menjadi ukuran keberhasilan seseorang dalam hidup. Setidaknya ada 9 jenis kecerdasan yang telah dieksplorasi oleh Howard Gardner

Bagaimana dengan pintar? 
Pintar, pandai, cakap, banyak akal adalah definisi yang diberikan oleh KBBI. Sering dipergunakan untuk menunjukkan kemampuan dalam mengikuti proses pembelajaran sesuatu, akademis. Dalam pintar, seseorang dapat diukur dan diketahui kemampuannya dalam menjawab persoalan,  yang dianggap sebagai tanda telah mencapai kompetensi.

Idealnya, siswa akan dianggap paripurna dalam pembelajaran formalnya apabila telah distempel cerdas dan pintar, terkhusus apabila juga diikuti perubahan perilaku yang positip.

Namun apakah harus bisa awangan untuk melakukan perkalian 27 x 13 jika untuk memperoleh hasil itu cukup dengan menekan tombol - tombol pada kalkulator?  

Pengantar di atas bermula saat melihat perolehan nilai, pada semua penilaian hasil belajar siswa. Pelajaran berbasis numerik yang selama ini dianggap pelajaran sulit jika dibandingkan dengan pembelajaran non numerik ternyata memperoleh hasil yang luar biasa baik.

Meski diyakini bahwa jawaban itu bukan semata kemampuan siswa karena tidak bisa dipantau secara langsung, hasil yang diperoleh sungguh mencengangkan.

Sebagai sampel, 1 kelas terlihat mencolok sekali hasil penilaian untuk mata pelajaran Matematika dan IPA. Ditemukan lebih dari 5 siswa memperoleh nilai  100 di kedua mata pelajaran, yang berbanding terbalik dengan hasil yang mereka capai untuk pelajaran PPKN, Bahasa Jawa, dan Bahasa Indonesia.

Keheranan ini menurut penulis karena siswa, yang memperolehnya pada saat pembelajaran Tatap Muka, tergolong siswa biasa - biasa saja. Persis sama dengan pelajaran yang nilainya mereka dapat  saat ini.  Wawancara dengan guru pengampu juga menunjukkan keheranan yang sama, mereka sulit percaya bagaimana bisa didapat nilai sesempurna. 

Maka manakala ada kesempatan, penulis berhasil menghubungi siswa - siswa tersebut untuk mengetahui bagaimana cara memperoleh hasil seperti itu.

Caranya ternyata dengan  di copy paste pertanyaan itu  lalu di search menggunakan browser.  Jawaban akan muncul dalam  dalam kolom pencarian. Penjelasan yang mengiringi jawaban itu biasanya muncul dalam brainly.com, academia.edu, rumahbelajar, dan beberapa situs pembelajaran.

Soal  berupa persamaan, jauh lebih mudah lagi. Mereka  memfotonya menggunakan aplikasi mathsolver, photomath dan lain sebagainya. Dan hasilnya dalam sekejap ditampilkan. Apakah semua pertanyaan itu ada jawabnya ? Anak - anak cerdas ini akan mencari jawaban yang mendekati  jawaban yang ada dalam pilihan.

Dalam hal bahasa Inggris, meski agak rumit, jawaban soal juga dapat ditemukan.

Bagaimana dengan pelajaran lain ? Selama pelajaran itu mengambil dari sumber di Internet, kemudian di paste secara persis, maka jawaban yang dimaksud akan muncul juga. Mereka akan kesulitan apabila soal - soal itu dibuat oleh guru sendiri (menggunakan bahasa sendiri),  soal dengan kalimat yang panjang, mengurutkan, dan tentu saja soal esai.

Menyikapi perilaku tersebut, maka menjadi benar bahwa saat ini nilai hanyalah sebuah penghargaan atas upaya yang dilakukan oleh siswa. Ia bukan sekedar pengukur ketercapaian kompetensi. Sekaligus menantang guru untuk membuat soal dengan bahasa mereka sendiri sesuai materi yang diberikan. Bentuk konsep dalam merdeka menilai, sebagai pelengkap dari merdeka belajar, dan merdeka mengajar.

Kecerdasan terbukti menjadi penopang kehidupan. Kemampuan seorang siswa untuk mencari jalan keluar atas kesulitannya saat ini menjadi titik utama dalam setiap pembelajarn.

Nilai? Itu bisa digunakan sebagai motivasi untuk menggerakkan kecerdasan siswa dalam mengeksplorasi lingkungan sekitarnya




Surabaya, 12/6/2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI