KASUS SAMBO, VERSI ORANG YANG DIKIBULI

Sebagai orang biasa, saya membayangkan didatangi orang. Ia berkata "Bang, aku baru bunuh orang !" Ada sedikit air mata diujung matanya. Suara pelan dan bergetar. Ketakutan.
"Hah ?" jawab saya. Melongo, tak percaya.  Kedua pupil mata saya membesar. 
"maksudmu ? Bunuh Orang, sungguhan ?"
Ia sesesungukan menganggukkan kepala. Tangisnya memecahkan kesunyian yang terbangun dari keterkejutan saya.
----------------------------------------------

Kalau di tivi Jelas saja saya tak percaya. Tapi.. Ini mah jenderal ! Janderal kan gak mungkin cengeng. Mau jadi apa negara ini kalo para jenderalnya murah banget obral air mata.

Maka tentu saja anggota kompolnas yang diundang si jenderal mandah percaya begitu saja. 

Hal yang sama berlaku untuk institusi penegak hukum setingkat polres, polda, dan tentu saja polri. Malah sang Kepala berpelukan segala. Dalam pelukan mesra itu nampak sekali 2 jenderal saling berbisik. Entah apa yang meluncur dari mulut 2 laki - laki berbadan kekar dengan jarak begitu dekat itu. Saling membelai gitu. Duh...

5 hari mayat tak dikubur. Para pembesar kepolisian menyatakan bahwa telah terjadi penembakan yang disebabkan pelecehan terhadap istri sang jenderal.

Diperkuat dengan laporan dokter, penyelidikan reserse sampai tingkat polri, kompolnas, dan juga para pengacara, simpulannya jelas : Terjadi tembak menembak diantara para pengawal sang jenderal.

Lalu media massa memperkuat, bahkan tiktok saya pun fyp nya juga tentang kejadian itu. Maka akhirnya saya percaya telah terjadi peristiwa tembak menembak, ala film bollywood. Dar dor dar dor dar.. 5 kali tembakan bisa diegos. Lalu, ada 4 kali balasan dar dor dar dor. Matilah salah satunya

Sebagai orang terkibul, penjelasan para pembesar pulisi sangat meyakinkan. Maklum, mereka yang menjelaskan itu orang - orang tua yang sangat berpengalaman dan fasih mengartikan gelagat. Jika yang menjelaskan Giring, barangkali sudah ku banting itu tivi, karena sudah keterlaluan ngibulnya.
.
Agar kesannya both side story, tivi-tivi besar mengkover kesedihan keluarga sang kopral. Mereka mengadu kemana-mana, bahkan kepada anggota Dewan yang terhormat. Bicara lantang di undangan wawancara tivi. Hingga salah seorang profesor hukum merasa ada yang aneh dari cerita Duren Wood itu.
.
Saya mulai bertanya kepada angin. Kok mbulet gitu. Trus siapa yang nembak, ngapain ditembak.

Menjadi terkibul tuh memang nyesek. Karena semua ekspektasi yang saya inginkan menjadi hancur. Setiap press converence dari seseorang, pasti disertai serbuan cerita lainnya. Tujuannya barangkali sebagai counter attack agar membingungkan musuhnya. Mirip-mirip strateginya Sun Zu dalam cerita Sam Kok yang legend itu.

Dalam pembicaran santai namun mendalam, saya berkata kepada istri, kok bisa ya, membunuh orang segitu bengisnya. Apa gak mikir keluarga, karir dan tentu saja kepada Tuhannya. Memamg kalo sudah jenderal, bisa membunuh orang gitu ?

Dengan perasaan terluka, saya terus mengikuti kisah ini. Tentu saja saya sudah bersumpah tak akan lagi mudah percaya agar tak kena kibul lagi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI