Malam 1 Suro



Dulu,  1 suro adalah saat penantian agar disahkan menjadi warga sebuah perguruan.  Berbekal kain mori, ayam jago dan beberapa ubo rampe penuh makna menemani fisik yang ditempa semalam suntuk. Pada akhirnya, hasil berlatih 2,5 tahun akan tertambat menuju tingkat baru yang disebut Warga. Terbayang betapa gagahnya   bersabuk mori putih, sebuah tanda padanya kalau telah layak menjadi guru karena segala rupa jurus  telah selesai ditakwilkan. 
.
Kala itu bapak berkata, " kowe nerus melu silat opo kuliah ? Bapak ora sanggup yen di gawe mbayari loro - lorone."  Seketika itu pula meredup gambaran pemuda gagah bersabuk mori. Ia lebih memilih kuliah. 

Pikirnya, toh kapanpun sabuk mori itu bisa diraih.  Tak tega rasanya melihat bapak yang tak kuasa melarang menjemput keinginan menjadi guru silat. Bapak lebih menginginkanya menjadi seorang cendekia, bukan tukang gelut semata sebab bagi bapak jauh lebih jantan melihat anaknya bertarung menggapai cita2.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI