Membangun Karakter Melalui Hal-Hal Sederhana
Karakter baik memang harus, sekali lagi, harus, dibangun. Ia bukanlah hasil jadi sebuah proses yang secara otomatis melekat manakala dilakukan. Bahkan Profesor Lickona menyebutnya bahwa pembentukan karakter itu adalah proses sepanjang hayat. Dilatih, dibiasakan dan ada keteladanan.
.
Dalam menghasilkan karakter yang baik, sering pendidikan dianggap sebagai garda terdepan. Barangkali, konseptual memang betul, tapi pendidikan hanya bagian kecil saja dari sebuah proses. Seseorang berpendidikan tinggi, atau berkecimpung dalam aktifitas pembentukan karakter belum tentu berkarekter baik. Apalagi awam yang hanya mengenal sekolah sebagai tempat belajar, bukan tempat untuk merubah perilaku.
.
Adalah Maulana, saya memanggilnya Lana, anak kelas beberapa tahun lalu. Sebagai seorang piatu, dengan ayah yang tak pernah menghidupinya, tinggal bersama neneknya yang berjualan ngemper di pasar Pegirian. Kehidupan yang sulit tak lantas memotivasi agar hidupnya membaik. Perilaku buruk pada akhirnya mengantarkannya keluar pintu gerbang sekolah selamanya.
.
Poin kenakalan yang didapat, serta intervensi yang intens tak mempan lagi untuk sosok tampan dan pendiam, sekaligus pemalas yang luar biasa itu. Diiringi derai pasrah sang nenek saat menerima rapot yang saya antarkan ke rumahnya, saya berpesan... "Sekolaho yo le, nang ndi ae, sing sampek duwur". Lana hanya menunduk terdiam....
.
6 tahun berikutnya, sore hari saat ngopy di daerah Pegirian. Barista, dimana warkop tempat saya ngepos menunggu istri keluar kantor, tersenyum dan menunduk saat saya memesan kopi. Sebagai loyalis di kedai itu, saya tahu persis siapa saja yang bertugas. Termasuk dia sebagai orang baru di kedai itu.
.
Saat mengirimkan pesanan kopi hitam ke meja saya, ia memegang lalu mencium takdim tangan saya. Beberapa kustomer menoleh keheranan melihat kejadian itu.
"Lho, sopo sampean mas ?" Tanya saya keheranan.
"Lali yo pak ?"
"Lana, Pak " Katanya
Sambil berpikir cukup lama saya baru teringat
"Lana sing metu kae ?"
Sambil tersenyum dia menganggukkan kepala.
"Kok jogo nang Kene ?"
"Iyo pak. Kaet seminggu."
Ia keheranan ketika saya tanya dimana barista yang lain sebelum dia, mengingat biasanya para pelanggan cafe itu kebanyakan driver ojol.
Sembari melayani pesanan lainnya ia bercerita kalo sudah lulus SMA swasta. Juga, sang nenek penopang hidupnya dulu, telah dipanggil saat covid mengamuk.
Tiba - tiba saja ia mengantar mie goreng instant, ditambah telor ceplok, meski saya tak memesannya. Saat itu, keharuan luar biasa menyergap..Bagaimana ia bisa-bisanya nguwongne saya, salah seorang yang merekomendasikan agar keluar dari sekolah, seperti itu ?
.
Saat pamit ia menolak seluruh pembayaran pesanan saya. Sembari meminta salim, ia berpesan agar sering datang ke tempat. Ia juga menghantarkan saya saat meninggalkan cafe. Saya sampaikan kepadaya agar terus sekolah setinggi-tingginya.
Ia hanya tersenyum lebar.
Dari jauh saya melihat kekagetannya melihat seratusan ribu terselip dari cangkir kopi saya.
.
Sejatinya adab yang baik dalam pembentukan karakter jauh hari telah ditunjukkan oleh ki Hajar Dewantara, lewat pengajaran - pengajarannya membangun Taman siswa. Ia menyadari adab (karakter) yang baik adalah bagian penting dalam mencetak pemimpin bangsa. Sebagaimana Imam Nawawi pun juga mendeklarasikan pernyataannya bahwa adab harus dibentuk terlebih dulu sebelum Ilmu diajarkan
.
Maka tak ada jalan lain bisa dilakukan dalam merubah adab kecuali dibiasakan, dibudayakan, serta memberi teladan secara terus menerus, yang dimulai dari hal kecil dan sederhana. Salim, misalnya.
Sby, 12/06/2022
Komentar
Posting Komentar