Mudik, Perjuangan Besar Setelah Puasa Ramadhan
Pada suatu masa lebaran, sekeluarga kami pernah berjuang amat keras mencari tumpangan untuk sekedar pulang berkunjung ke orang tua.
Adalah Sri Lestari dan Harapan jaya duo penguasa jalanan jalur Surabaya Kediri, dengan pilihan bus biasa atau bayar 1.5 kali lipat dari harganya untuk mendapat bis Patas, cepat Terbatas. Masing - masing punya jam tertentu untuk bisa parkir ditempat kedatangan di terminal Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo, dengan waktu tunggu hanya 3 menitan.
.
Setelah puluhan kali lebaran, situasinya nyaris tak pernah sama. Pagi itu, pukul 4.30, dengan pertimbangan pemudik lain masih terlelap setelah makan sahur, kami sudah berada di terminal purabaya. Meski petang masih rapat, kami hanya bisa masuk sejauh 500 meter dari penurunan penumpang.
.
Secara teori, penumpang yang turun haruslah diprioritaskan. Lalu bis bergeser ke tempat transit untuk laporan, pembersihan, pengecekan laik jalan, dan kemudian siap di tempat kedatangan.
.
Saat itu sambil menggendong si sulung, isteri mencoba menaiki pintu masuk bis sisi depan. Tak ada kemudahan meski kami masuk dengan menggendong bayi. Kaki kiri telah berhasil menapak tangga masuk. Sambil mencengkeram handle pintu, ia mengangkat badannya agar bisa masuk kedalam. Tangan kirinya berpengangan ke lengan kiri saya yang terulur sebagai tumpuan. Untuk membantunya naik, saya dorong pantatnya. Sementara si bayi dalam gendongannya hanya melihat perjuangan orang tuanya tak mengeluh meski peluh ibunya membasahi.
.
Setelah pintu masuk terlampaui, gilirannya untuk mencari tempat duduk. Syukur dapat 2 bangku berjejer. Akibat kaki yang belum menapak tangga, dengan mudah saya tergeser ke arah kanan. Untung tangan kanan masih bisa meraih handle pintu, meskipun harus mengorbankan punggung terjajar pinggir bus.
.
Segera saja saya memperbaiki posisi, menghadap kearah masuk pintu. Kaki kanan berhasil naik satu tingkat, tetapi Kaki kiri masih menggantung di luar. Desakan terus terjadi. Saya mengikuti arah desakan itu dan secara perlahan menarik kaki kiri agar bisa sejajar. Lalu secara curang mengeraskan badan agar bisa menerobos ke depan dengan memanfaatkan dorongan penumpang.
.
Diuntungkan postur, dorongan itu membuat saya lebih leluasa mencari celah menuju bangku yang telah dicari istri saya. Agar bangku ke dua tidak di serobot, sengaja bayi kami didudukkan pada kursi itu. Aman. Meski barbar, penumpang masih sungkan untuk mengusik seorang ibu dengan bayinya.
.
Fase kedua lengkap. Penumpang terus berdatangan tanpa henti. 99 penumpang yang seharusnya diangkut kini bertambah lebih dari 200, yang dijejer pada masing kursi sandaran. Berhadapan dengan jarak yang begitu rapat dengan salah satu tangan bergelantungan. Maka, meskipun duduk, punggung tak bisa disandarkan sempurna. Bertahan pada posisi yang sama terus menerus selama 3 jam perjalanan.
.
Dibagian depan, penumpang lain malah menempati kap mesin.
.
15 menit menjelang akhir tujuan, kami harus segera berdiri. Lalu berjalan pelan menuju pintu keluar terdekat. Jika tak bisa segera sampai, maka penumpang lain harus bersedia diturunkan untuk memberikan jalan. Bis berjalan teramat pelan dan memerintah kami untuk turun dengan kaki kiri terlebih dulu. Guna menghilangkan efek inersia.
.
5 hari berlalu, kini saatnya kembali ke rutinitas semula. Bis Kediri Surabaya dapat dipastikan tak akan ada tempat duduk bagi kami. Mengingat bis ini telah melayani penumpang dari ujung trayek, Trenggalek, menuju tujuan Surabaya.
.
Keputusan kami adalah ikut bis Jurusan Surabaya - Trenggalek. Harapannya, di terminal keberangkatan awal inilah kami bisa memilih bis. Konsekuensinya adalah waktu tempuh 2 kali lebih lama, dan juga tentu saja harga tiket.
.
Tak apa... Toh juga setahun sekali. Tak ada sesal, meski lahir batin kami kelelahan.
Komentar
Posting Komentar