Obat Keras Penyambung Nyawa
Sungguh, sebuah kejadian tragis dalam hidup telah menimpa Gus Nur. Ia tahu sebagai penglaju harus pandai - pandai berhitung masalah gaji. Jelas jumlahnya tak cukup untuk hidup secara berlebih. Apalagi sudah 2 bulan terakhir begitu banyak potongan yang harus dibayarkan. Beras yang dibawakan oleh orang tua dari desa kini seringkali hanya bisa bersanding dengan kuah bakso, yang dibelinya tiap pulang ke kosan, ditambah kerupuk dari Yuk Sri. Ia tak butuh makanan bergizi tinggi yang sebetulnya sangat dibutuhkan tubuhnya yang ringkih. Sering, demi menahan lapar, Gus Nur menidurkan dirinya.
Kali ini di pojok gudang tempatnya tidur ia termangu - mangu. HP, alat kerja utamanya selama ini sedang rusak. Harga perbaikan yang ia cari di internet hampir seperempat gajinya. Ingin sekali dibawanya ke tukang servis namun masih ada waktu 2 pekan lagi sebelum gajian tiba. Dibukanya dompet lusuh yang kini setipis kertas itu. Dikeluarkan dan dihitungnya perlahan. "Tak cukup". Batinnya. Ia remas - remas rambut dikepala berharap beban itu ikut terlepas. Bimbang, apalagi yang bisa dikurangi dari kebutuhan hidupnya itu. Matanya nanar melihat cairan hitam kecoklatan di sudut meja. Bibirnya sedikit terangkat
Diambilnya obat keras dari kotak P3K itu. Perlahan diminumnya meski terasa membakar tenggorokannya. Pahitnya luar biasa. Harapannya dana sosial dari perusahaan yang nanti diberikan kepadanya dapat dipakai membayar biaya servis HP, sedangkan untuk pengobatan ia pasrahkan saja kepada BPJS. Tersenyum ia mulai menahan sakit yang menyerang ususnya.
Sby, 28/8/2022
Komentar
Posting Komentar