Pandemi dan "Moro - moro...."



 

Pandemi 2 tahun ternyata membawa dampak. Bukan saja nyawa yang melayang, tapi  juga waktu   yang  turut menghilang.
.
Saat di karantina di semua level PPKM, nyaris hubungan fisik terputus. Hanya suara dan wajah saja yang sering tampak. Energi kangen kepada sanak keluarga yang begitu hebat saat itu langsung menguar begitu saja.
.
Pandemi membuat waktu terasa singkat. Saya bahkan kehilangan orientasi  saat melintasi masa lalu yang sekarang menjadi masa kini itu. "nDisik ngono sak iki malih ngene". "Loh, kok wes semene gedene ? Kapan cilik e ?
Kok ilang, nang ndi mau bangunan e ?
.
Padahal cuman 2.5 tahun pandemi nyambangi. Namun kehilangannya begitu nyata.
.
Bak po telo yang dulu berdiri gagah, berhadapan dengan saudaranya republik telo, kini tinggal bangunan megahnya saja. Pintu masuknyapun terhalang bambu - bambu, terlarang untuk dilewati.
.
Pasca pandemi, kebutuhan Untuk berkumpul menjadi tak terkendali lagi. Meski berbalut masker, acara kondangan, mantenan, arisan, juga kangen-kangenan gencar diadakan.
.
Kaget. Yang dulu berdua, sekarang telah sendiri. Terakhir ketemu masih dalam rahim sang bunda, sekarang sudah bisa memanggil "pak dhe". Bagaimana mungkin selama itu kami tak bersua, hingga saat bertemu ia telah sebesar itu. "Moro - moro gede, kapan cilik e ?"
.
Satu pelajaran yang bisa ditarik, nikmati selagi bisa. Lakukan senyampang nyawa masih di badan, karena waktu saat berlalu, ia tak kan pernah kembali. 

14/8/22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI