ANAK - ANAK ASUHAN MEDSOS

Ilustrasi, Dok Pri
ilustrasi dokumen pribadi


Sebuah vidio penganiayaan siswa SMP ber helm menjadi sorotan publik hari ini. Demi konten, anak - anak itu membuat adegan penganiayaan. Mereka merundung sebayanya yang tak saja melukai harga diri, tetapi juga fisiknya, lalu mengunggahnya dengan penuh kebanggaan ke akun - akun media sosial hanya sekedar mencari follower.


Juga tentang persaingan antar perguruan silat. Awalnya dimulai dengan saling olok di media sosial pribadi. Dari perang kata - kata, menjadi pertarungan bersenjata, yang membuktikan bahwai fanatisme dapat dengan mudah dimobilisasi menjadi bentrokan hanya dengan sentuhan lembut -send/kirim.


Kasus terbaru ketika beberapa orang siswa berseragam pramuka melakukan perundungan kepada seorang nenek - nenek tua di Sumatra. Pengambil gambar, sebagai bagian dari pelaku, tanpa risih mengunggahnya di media sosial.


Sebagai orang yang terlibat banyak di dunia pelajar, banyak ditemukan siswa yang mengalami FOMO,Fear Out Missing Of, perasaan takut tertinggal momen yang lagi ngetrend di dunia maya. Mereka merasa lemah, tak berdaya di hadapan teman - temannya yang terlebih dahulu memperoleh informasi itu. Padahal sebetulnya, mereka sadar bahwa informasi itu tak bernilai,


Gejala yang muncul dari FOMO itu dapat dilihat betapa anak - anak itu merasa perlu mengecek status dari orang lain. Mereka mengikuti perkembangan seseorang dari hari ke hari hingga pada taraf yang mengkhawatirkan. Bahkan, mereka sampai harus mencuri waktu untuk sekedar “melirik” notifikasi gadget di sela - sela pembelajaran.


Gadget juga sangat mempengaruhi perilaku anak. Berbagai penelitian melihat perubahan tidak alami anak - anak usia belajar, dimana mereka melakukan replikasi sikap yang ditunjukkan orang yang ditonton. Apalagi jika figur itu mempunyai follower hingga jutaan. Figur - figur ini seolah menjadi  “orang tua” asuh mereka. Sikap atau perilaku yang nampak padanya menjadi panutan.


Para “orang tua” ini juga kerap mempertontonkan sikap asusila dalam bergaya dan berbusana yang menampakkan bagian tubuh yang sesungguhnya tidak layak untuk ditonton. Bahkan beberapa diantara mereka memberikan pengakuan menjijikan tentang berapa kali mereka berzina dalam sehari, dan tentu saja dibungkus dengan judul konten bernuansa clickbait,


Gaya hidup hedon dan narsistik yang juga telah ditiru di usia dini anak - anak. Tak canggung - canggung pamer barang meski bukan miliknya, atau kebiasaan narsis meski sekedar berfoto selfi makan pentol bakso pinggir jalan. Lumayanlah, dari pada pamer dada atas sebagaimana ditunjukkan oleh seorang wanita saat diwawancarai you tuber mantap pesulap,

  

Kemunculan “Orang Tua Asuh” yang dilihat anak - anak ini bermula dengan sistem media sosial yang memberikan sajian kepada penontonnya secara acak berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri oleh anak - anak, juga reaksi mereka atas tawaran tayangan. Data digital itu akan dikumpulkan dalam catatan/loga media sosial


Pesan hasil olahan data digital itu akan diterima oleh Dendrit, kemudian disimpan dalam hippocampus, bagian otak yang berperan penting untuk menyimpan informasi dan menghubungkan emosinya dengan ingatan tersebut (Meva, 2021). Bisa dibayangkan betapa rusaknya mental anak jika dalam 24 jam ia menerima paparan negatif, hoaks dan perilaku menyimpang, yang diulang - ulang dan dikuatkan oleh proses algoritma media sosial yang mereka ikuti.


Sebetulnya tak hanya Media Sosial saja, komunikasi yang dikembangkan oleh developer game juga berpotensi mempengaruhi mental dan psikologi anak. Dalam hal “mabar” batasan umur sudah tak ada. Justru anak akan menaruh respek kepada “senior” yang telah ada dalam permainan tersebut. Sehingga memunculkan sikap subordinasi diantara mereka meski secara fisik mereka nyaris tak pernah bertemu. 


Penutup

Pengasuhan Digital oleh Orang Tua secara masif harus dilakukan. Mereka wajib melihat setiap perubahan perilaku anak. Ditunjang dengan komunikasi yang dialogis, akan dapat ditekan perilaku menyimpang itu. Komunikasi dialogis yang dimaksud adalah dengan membicarakan mana hal - hal yang pantas dilihat oleh anak - anak. Diskusi yang hangat dan tidak menghakimi diyakini akan mempertebal perisai anak dalam dunia maya.



Surabaya, 22/11/2022

Komentar

  1. Tulisan ini bagus. Pertanyaan mendasar tentang hakikat anak2 kita. Jadi teringat puisi Kahlil Gibran tentang hal ini.

    BalasHapus
  2. Luar biasa tulisannya. HAL diatas juga terjadi pada anak didik Kami meskipun tidak banyak.

    BalasHapus
  3. Aappiiiikkk, mas broo..pembahasannya.
    Memprihatinkan kondisi anak² sekarang.

    BalasHapus
  4. Begitu memperhatikan siswa-siswa zaman now. Hidupnya tak bisa lepas dari gadget. (Abdisita)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI