Bapakku ( bukan ) Pejuang
Ya, aku tahu pasti. Bapak memang tak pernah mengokang senjata. Ia hanya pernah menjadi sukarelawan saat konfrontasi dengan Malaysia kala itu.
Dijanjikan kepadanya, barang siapa ikut berjuang, maka pada saatnya kelak ia akan direkrut dalam sebuah angkatan perang.
.
Jadilah bapak berangkat meninggalkan ayah bunda dan adik-adiknya. Kesempatan emas yang pantang untuk disia-siakannya.
.
Borneo, tujuan utama bapak bersama serdadu lainnya. Dalama misinya, ia tak tahu harus berbuat apa. Bapak hanya meyakini kebenaran suara dari si Bung. Bahwa ia memang terpilih menjadi relawan itu.
.
Dan memang tak mudah. Perjuangan sesungguhnya yang ia lakukan adalah melawan lelah, lapar, serta menjaga harapan agar tak padam.
.
Namun perang tak kunjung datang. Kontrakpun telah sampai batas waktu. Bapak tak tahu harus bagaimana. Lantas ada tawaran dari para penguasa. Jadilah polisi atau guru, katanya. Tentara tampaknya bukan takdirnya dan pilihanpun jatuh menjadi guru.
.
Mimpipun tak pernah bapak bayangkan. Ia memilih posisi itu karena dijanjikan akan diangkat menjadi serdadu udara. Maka sambil menunggu panggilan, ia mengabdikan diri di dunia baru itu.
.
40 tahun berlalu semenjak perjalanannya menembus lebatnya hutan Borneo dengan hanya berbekal garam, dan ketela pohon, cita - citanya menjadi tentara tetap tergantung di angan.
.
Kini ia adalah legiun. Hanya brevet bertuliskan LVRI di dada kiri, serta pusara untuk mereka yang telah menghembuskan nafas membela bangsa yang dihadiahkan kepadanya
.
Ia memang tak berperang dalam desing peluru.
Ia hanya berjuang untuk keluarganya. Untuk kami. Ibu, saya, dan adik - adik dengan tanpa sepatah kata keluhan.
Sby, 10/11/2022
Komentar
Posting Komentar