BLOOD MOON

Blood Moon


Luigi hanya terdiam memandang Blood Moon. Fenomena bulan yang menghilang karena gerhana lalu muncul dengan warna merah membara. Baginya keindahan itu adalah anugrah. Sekaligus kutukan. Rambutnya yang  memanjang menutupi wajahnya yang tampan. Rahangnya mengeras. Lengan bertonjolan daging  menegaskan kekerasan yang dilakukannya selama ini.

Diusianya yang masih amat muda di sukunya, 200 tahun, ia memang pantas menjadi Alfa. Pemimpin klan werewolf yang sangat rahasia dan berbahaya. Kekuasaan mutlak yang ia perebutkan dengan membunuh   pemimpin klan sebelumnya melalui pertarungan brutal dan mematikan. Blood moon kali ini mengingatkannya pada perkelahian hidup mati dengan Iblis itu. 

Tangan berlumuran darah itu mencengkeram leher,  senyum  buasnya melebar, siap melumat. Luigi tak ingat jelas rupa mahluk itu. Kedua bola matanya remuk terkena pukulan. Dalam liar tangannya menggapai - gapai. Sebuah benda ia temukan dan sekuatnya   ia hunjamkan ke jantung mahluk itu. Anyir darah yang memuncrat membuat kerongkonganya terbakar, dicengkeram balik mahluk buas itu, dan digigitnya leher berbulunya. Brutal ia teguk cairan kental menjijikkan. Gelegak darah yang tak habis-habisnya mulai berpindah tuannya. Ajaibnya, bola mata yang rusak itu sel - selnya mulai memperbaiki dirinya. Dengan sedikit terpicing, ia melihat sosok yang   menyerangnya itu kembali berubah bentuk menjadi manusia,  sosok lembut yang selalu di panggilnya Papa itu tersenyum.  Matanya memutih saat selembar nyawanya tercabut

Sby, 9/11/2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI