Keras atau Tegas Dalam Pendidikan Karakter ?

 




        "Pendidikan Karakter Yang dilakukan dengan Benar akan                             meningkatkan prestasi akademis Siswa"

freepik


Menjelang jam istirahat usai, 5 siswa memasuki ruang musala sekolah. Mereka berteriak - teriak dan bermain - main sebelum sholat dimulai. Bahkan, salah seorang diantara mereka mencoba menyalakan microphone untuk kegiatan permainan mereka. Tak lepas tawa senda gurau mereka nyaris tak mengenal adab saat berada di tempat suci. Mereka saya ajak untuk sholat berjamaah. Sebelum sholat dimulai saya ingatkan bahwa ini adalah saat yang fokus, tak boleh main - main.


Namun peringatan itu tak mereka hiraukan. Sejak takbiratul ihram, tak sedetik pun mereka lepas dari bercanda. Sedih. Betapa sholat menjadi hal yang sangat biasa dan tak terlalu penting. Kentara sekali perilaku saat sholat tidak terbentuk di rumah masing - masing.


Dari balik bahu, terlihat mereka masih saja saling mendorong, mengganggu, dan sangat melecehkan kegiatan sholat itu sendiri. Puncaknya perilaku mereka berlima sudah keterlaluan, dengan cara melepaskan diri dari sholat jamaah, dan membentuk jamaah sendiri. Tak masalah jika pemisahan diri mereka bisa membuat lebih khusyu'. Tetapi tidak demikian adanya. Mereka tetap bersenda gurau, tertawa cekikan. 


Sebagai seorang Imam, perilaku itu menggelisahkan saya, yang pada akhirnya membuat saya membatalkan shalat untuk mengingatkan mereka.


Mengingatkan jelas, wajib hukumnya. Tetapi melihat kenekatan mereka, jelas mereka sangat tidak terbiasa untuk menghormati sholat, apalagi sholat berjamaah.


Barangkali ini masalah kecil. Toh mereka masih kecil, kan bisa dibenahi.

Nah.. di keluargalah hal itu bisa dimulai. Sekolah hanya menyediakan fasilitas. Perilaku siswa sangat berkaitan dengan kehidupan mereka di rumah, dan tak selalu berhasil bisa dibentuk di sekolah.


Karakter menjadi sebuah hal utama yang ingin dicapai oleh semua lembaga pendidikan. Religius, Disiplin, Kerja sama, Pantang menyerah dan sebagainya,  jauh lebih berharga dari  pada nilai akademis yang diangkat berdasarkan syarat Ketuntasan Minimal.


Sayangnya Karakter juga tidak bisa dideteksi secara langsung atau berkaitan langsung dengan kemampuan akademis seseorang. Karakter akan tumbuh apabila diajarkan dengan baik oleh guru dan direspon dengan baik pula oleh Siswa.

Tak dipungkiri, karakter yang baik akan sangat mempengaruhi nilai belajar sebagaimana dibuktikan dengan beberapa penelitian yang berkaitan dengan variabel karakter di beberapa tingkatan kelas.


Pendisiplinan dalam rangka pembentukan karakter yang baik sering disalah artikan sebagai upaya kekerasan. Harus dipahami bahwa sesungguhnya penegakan disiplin tak hanya kalimat - kalimat "sugestif" tetapi juga ada ketegasan. Ada "sesuatu" yang jika dilanggar, akan ada konsekuensi logis.


Kita tak perlu ragu dengan label, "Sekolah  Ramah Anak", jika bentuk pendisiplinan itu dianggap "kekerasan".  Banyak batasan yang bisa dilihat sejauh mana perbuatan itu dianggap sebagai kekerasan atau tidak, sebagaimana diatur oleh UU Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002. Maka berdasarkan rambu itu, pendisiplinan secara tegas, sangat dimungkinkan. Disiplin adalah sebuah upaya untuk membentuk karakter yang tegar dan bertanggunjawab atas segala tindakan yang dilakukan.. Bukan disiplin namanya jika masih ada pengecualian - pengecualian sekedar membenarkan pelanggaran yang ada.




Sby 15/11/2022


Komentar

  1. Disiplin itu penting, utk membangun karakter siswa pula.

    BalasHapus
  2. setuju, disiplin harus ditegakkan walaupun terkesan menyakitkan.

    BalasHapus
  3. Terkadang upaya pendisiplinan jadi terhambat lantaran pertimbangan efek yang akan ditimbulkan.

    BalasHapus
  4. Betul sekali Pak, disiplin juga wajib untuk pembentukan karakter

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI