JIKA GURU KENCING BERDIRI, MAKA MURID BISA KENCING DIMANA SAJA, KAPAN SAJA

Sebuah catatan kecil pada Hari Guru Nasional tahun 2022

Guru adalah orkestrator, yang mengendalikan nada dan alat musik yang berbeda sehingga mampu menghasilkan lagu yang nikmat untuk di dengar, dan   sangat akurat dalam mencari  nada mana  yang harus diperbaiki sehingga tidak akan merusak konser secara keseluruhan, begitu kata Bobby de Potter dalam buku Quantum Learning

Ia menjadi pusat  pengetahuan, pada saat yang sama,  juga menjadi moral compass bagaimana  berperilaku. Maka ketika guru kencing berdiri, murid kencing berlari. 

Dengan beragam ketrampilan,  saat mereka kencing berlari, ia tak tersandung - sandung. Atau jika terjatuhpun, ia punya kemampuan untuk membuat berdiri. 

Ia juga sebagai orang tua bagi puluhan anak dalam kelasnya. Anak _ anak  dalam perjalanan menuju kelasnya, telah membawa perilaku dan latar belakang  berbeda satu dengan yang lainnya. Matanya seperti mesin scanner yang   mampu melihat perubahan perilaku  satu demi satu dari para muridnya    jauh kedalam hati anak didiknya.

Lalu profil itu berubah. Selama  pandemi  yang  nampak hanya suara, dan terkadang wajah. Masing - masing  diantara mereka tak saling lihat. Komunikasi yang dibangun melulu  dari intonasi .  Tak ada lagi bagian tubuh yang ikut bicara. Pembelajaran yang dilakukan pun  tak ada intensitas, yang mengikat guru dan murid dalam sebuah jalinan. Tugas  mengajar selanjutnya dilimpahkan kepada  orang tua di rumah

Ada perkembangan luar biasa kala itu dalam kegiatan  pembelajaran. Ialah teknologi informasi yang secara disruptif menggantikan guru sebagai nara sumber utama. Baik sebagai pengajar, maupun penyedia beragam konten.

Ketergantungan menghadirkan pengalaman nyata menjadi digital membuat hubungan guru - murid seolah menjadi lebih baik. Ada anggapan bahwa semakin banyak informasi diperoleh, maka wawasan siswa akan bertambah luas. 

Padahal tidaklah demikian. Vidio pembelajaran yang dihasilkan oleh kanal vidio berbagi itu tidak selalu melalui proses kurasi, asesmen, maupun uji coba oleh instansi berwenang. Akibatnya munculah sampah informasi. 

Ketidakmampuan guru dalam menyaring informasi semakin memperburuk situasi pembelajaran. Gagasan Pembelajan Jarak Jauh, barangkali hanya berhasil untuk tingkat pendidikan tinggi, itupun barangkali hanya merujuk pada 1 nama, Universitas Terbuka, yang memang sudah sangat lama berada dijalur pendidikan terbuka.

Pembelajarn Online faktanya adalah pembelajaran offline yang di onlinekan. Dalam sebuah sesi pembelajaran on line, masih banyak guru yang mengabsen siswanya satu persatu. Jika tak nampak, dipanggil-panggilah sang siswa macam orang jualan. Tak mudah memang, beraksi didepan kamera, di komputer, dengan hanya melihat gambar profil semata.

Pandemi juga membawa dampak terhadap peran guru. Tak semata sumber informasi, lebih jauh, juga berperan sangat penting untuk membuka jalan bagi siswa untuk menggali beragam informasi. Istilahnya sekarang adalah fasilitator atau pengarah. Sehingga dengan instruksi yang baik siswa akan memperoleh pengalaman belajar lebih baik dan lengkap, serta disesuaikan dengan gaya belajar masing-masing.


Sebuah skenario sederhana yang menggambarkan perlu adanya fisik guru tentang pembelajaran tersebut adalah seperti berikut. Beberapa saat sebelum pertemuan, guru telah membuat vidio pengantar tentang materi pada hari itu. Ia juga telah mempersiapkam materi dalam bentuk digital serupa media pembelajaran yang menggabungkan gaya belajar siswa, untuk menguji pemahamaman atas pembelajaran tersebut, dibuatlah asesmen menggunakan LMS yang mempunyai kontrol otomatis terhadap pengolahan nilai.  Setelah persiapan selesai, dikirimkanlah link pembelajaran siswa melalui beragam cara.

Benarkah selesai ? Apakah pembelajaran dianggap selesai setelah siswa memperoleh nilai yang dipersyaratkan ?


Disinilah terjadi transformasi dan perubahan peran dari guru. Bukan lagi penyampai instruksi dari materi yang terdapat pada buku pelajaran tetapi lebih sebagai  pengarah, informasi mana yang bisa digali oleh siswa. Sehingga kehadirannya tak selalu dibutuhkan karena sudah digantikan oleh google atau you tube.

Transformasi peran kedua adaIah  pembentuk karakter. Sesuatu yang tak kan pernah bisa dilakukan oleh mesin secanggih apapun. Sebagai role model bagaimana adab itu harus ditegakkan.  Ilmu mudah dicari, tapi bagaimana sesungguhnya perilaku itu dijalankan, hanya  guru lah yang bisa mencontohkannya.

Perubahan ini tentu harus disesuaikan oleh guru, dengan banyak memberikan contoh perilaku dalam kehidupan di sekolah. Bukan sekedar instruksi - instruksi, membangun proyek atas nama pembentukan karakter. Ini penting ditanamkan karena kemampuan menggali informasi siswa bahkan lebih unggul dibandingkan gurunya. Sehingga jika tidak dibentengi oleh karakter yang baik, justru ia akan mengencingi gurunya.

Sby, 25/11/2022

Komentar

  1. Terima kasih Pak Yudi, sudah berbagi ilmunya. Setuju sekali, bahwa penerapan adab/akhlak itu diterapkan sejak awal atau dini pada anak. Kalau sudah terbiasa dengan peradaban yang baik maka anak tidak akan sembarangan dalam berperilaku di mana ia berada dan kepada siapapun.

    Saya tunggu karya-karya berikutnya...👍

    BalasHapus
  2. Mantap! Setuju Pak! Guru tak tergantikan. Penanaman karakter adalah keniscayaan. Bisakah kita menjadi teladan? Terimakasih! Tulisan ini sungguh mengingatkan.

    BalasHapus
  3. Menarik sekali tulisan pak Yudi.
    Peran guru sebagai "Pengarah" sudah menarik, sudah dianggap dapat mengatasi lost learning.
    Apalagi peran guru ditingkatkan sebagai "Motivator" yang dapat memunculkan motivasi diri anak.
    Peran guru sebagai "Inspirator" yang selalu dapat menginspirasi peserta didik. Peserta didik kapan pun, bagaimana pun selalu terinspirasi gurunya, pasti keren.
    Peran guru sebagai "Inovator" yang dapat memicu dan memacu inovasi anak. Hal ini pasti lusr biasa.

    Sukses selalu pak Yudi

    BalasHapus
  4. Tulisan yang menggelitik dan menarik. Lanjuut

    BalasHapus
  5. Sangat setuju Pak, peran guru sebagai fasilitator tidak dapat digantikan oleh mesin secanggih apapun.

    BalasHapus
  6. Guru memang harus sung tulodo mangunkarso.

    BalasHapus
  7. Sangat setuju Pak. Fakta menunjukkan permasalahan anak. Setelah pandemi makin kompleks.

    BalasHapus
  8. Terima kasih ilmunya pak
    Yudi. Benar anak-anak sekarang kurang beradab. Suka "nglamak" kata tetangga saya yang pernah ngajar dari zaman pak Harto hingga pak Jokowi.. Sehingga mereka harus belajar adab dulu, baru ilmu. (Abdisita)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI