KUASA ANGKA


Repot tlah tiba..
Horee...

Inilah perayaan yang dihasilkan setelah beberapa bulan berkutat dengan proses, merubah perilaku seseorang dari semula yang tak paham apa apa menjadi orang yang sama sekali baru melalui kegiatan yang dinamakan pendidikan, yang dikristalisasi ke dalam 6 - 15 mata pelajaran. Membagi rapot. Momen penting yang hadir setahun dua kali. Berisi deretan angka yang tak mudah ditafsiri.

Setiap mata pelajaran memerlukan tanda, yang menunjukkan bahwa ia telah tercapai, atau telah selesai dipelajari, berupa angka - angka yang bervariasi sebagai gambaran telah dilaksanakan penilaian di dalam sebuah pembelajaran. Ada 3 pendekatan yakni assessment of Learning (penilaian akhir pembelajaran), assessment for learning (penilaian untuk pembelajaran), dan assessment as learning (penilaian sebagai pembelajaran).

Angka yang sering ditunjukkan itu adalah yang paling dominan dalam  proses pembelajaran adalah assessment of learning, dinilai diakhir sebuah pembelajaran. Bukan pada proses yang berjalan secara simultan dan pararel.

Jika diperoleh angka yang dipersyaratkan, yah, artinya pembelajaran itu "berhasil". Tapi benarkah demikian ?

Sesungguhnya permendikbud no.23/2016 memberikan jawaban tentang penilaian lainnya. Berupa penilaian sikap, pengetahuan (yang sering dilihat sebagai indikasi keberhasilan proses pembelajaran  dalam bentuk angka - angka tertentu), dan penilaian ketrampilan.

Ketiga  penilaian ini secara konsepsepsi telah diatur dalam permendikbud diatas. Malah, saking banyaknya angka yang harus diisi tak mudah yang bisa menginterpretasikan capaian siswa karena berisi  banyak informasi.

Deretan angka - angka itu sebetulnya merupakan alat ukur yang baik dalam melihat kemampuan siswa,  sebagai alat untuk mengumpulkan data oleh guru sebagai umpan balik dalam memperbaiki pembelajaran.

Syamsir Alam dalam opininya di media Indonesia (2020) punya pendapat menarik tentang penilaian ini. Selama proses pembelajaran, diberlakukanlah penilaian formatif yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas belajar siswa. Tak harus banyak indikator, asal cukup memberikan informasi yang diperlukan oleh guru. Jika pakai soal dalam menguji, tak usah banyak-banyaklah.

Sebaliknya untuk mengetahui capaian keseluruhan dari materi dimaksud, sumatip dapat dilaksanakan. Hasil yang diperoleh merupakan bukti seberapa banyak tujuan pembelajaran dicapai. Dan itu harus ketat, karena berkaitan dengan kualitas.

Celakanya, nilai tinggi begitu diagungkan. Berlomba - lomba siswa agar memperoleh nilai tinggi. Segala cara dilaksanakan. Kebebasan memegang gawai tak lantas membantu mencerdaskan siswa menjelang ujian, justru sebaliknya, gawai menjadi alat/tools licik mencari jawaban.

Balapan memperoleh nilai tinggi menjadi bertambah runyam dengan ditentukan nilai minimal, KKM, yang harus diraih siswa,  kemudian  dengan kumpulan nilai itu akan digunakan sebagai persyaratan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Begitu pentingnya nilai tinggi, siswa yang belum mencapainya diupayakan agar mampu meraihnya. Paling gampang dengan tambahan tugas atau remidi dengan soal yang sama. Demikian juga tambahan nilai untuk apresiasi atas prestasi non akademis yang diraih siswa. Meski pemamahaman dalam keilmuannya masih jauh panggang dari api.

Jalan Tengah.
Komunikasi sekolah melalui wali kelas dan guru dengan wali siswa adalah satu - satunya jalan. Nilai tinggi harus dipahami bukanlah tujuan bersekolah melainkan adanya sikap atau adab yang baiklah sesungguhnya yang hendak diraih. Nilai bisa diraih dengan  cara baik pula karena semata - mata untuk menggambarkan kemampuan siswa dalam memahami materi.  Bahwa sekolah juga bukanlah  tempat penitipan anak, saat orang tua bekerja  tetapi sebagai rumah kedua bagi anak, sehingga tanggungjawab mutlak masih ditangan mereka. Kolaborasi dengan guru akan menciptakan siswa yang tak hanya tinggi di angka, tetapi juga diadab.

23/12/2022

Komentar

  1. Leres Pak Yudi...
    Untuk yang 'kumer' tak tampak predikat A,B,C nya...Semoga anak-anak tak banyak yg curang menggunakan gawai dlm meraih nilai tinggi...

    BalasHapus
  2. Penetapan angka dari kita masih kalah sama perintah atasan bu

    BalasHapus
  3. Setuju mas broo...apa yang sudah diulas itu. Jadi teringat lagi ketika saya masih aktif. Saya percaya...mas bro bisa menghadapi itu dengan penuh semangat.... Mohon maaf 🙏

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI