Meramu Dua Budaya dalam Brianna dan Bottomwise
Penulis: Andrea Hinata
Tanggal Terbit: 1 Januari 2022
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah Halaman: 380 Halaman
ISBN: 978602291942
Setelah Tetralogi Laskar Pelangi, Dwilogi Cinta dalam Gelas, Dwilogi Guru Aini, Ayah, dan Sirkus Pohon, tahun 2022 Andrea Hirata meluncurkan lagi karyanya yang diberi judul Brianna dan Bottomwise. Hingga Januari 2023, karya ini telah mengalami cetak ulang kedua. Sejenis dengan karya - karyanya terdahulu, novel ini mempunyai beberapa alur cerita yang berbeda, namun pada akhirnya dipertemukan dalam sebuah akhir yang menarik. keunikan Andrea adalah di tiap - tiap akhir bab, akhir kisah sering muncul plot twist yang tak terduga.
Andrea Hirata membuktikan bahwa ia tidak saja pengarang, tapi juga pendongeng yang handal. Ada interaksi antara dia dan pembaca - karya - karyanya. Seolah - olah ia sendiri yang berbicara. ..Tapi aku punya cerita untukmu, kawan.” Kalimat pembuka yang ada di halaman awal novel, secara langsung telah menyapa pembacanya.
Novel ini terispirasi perjalanan pribadinya dalam bermusik. Ya. Ia juga seorang musisi dengan beragam genre alat musik.. Pemahaman dibidang bermusik ini nampak pada kemampuannya menarasikan jenis - jenis musik yang silih berganti muncul menghiasi novel ini.
Dibangun dalam dua latar budaya yang berbeda. Amerika dan Melayu Belitong (begitu Andrea menuliskannya). Pada sisi cerita Amerika, bahasa yang ia gunakan terasa berbeda gayanya. Formal, dan “sangat biasa” sebagaimana karya - karya penulis Indonesia lainnya. Sebaliknya, cerita sisi Melayu Belitong, ciri khasnya muncul kembali. ‘Jokes’ melayu yang selalu terselip sebagaimana ada pada karya - karyanya terdahulu.
Adalah gitar milik Legenda Hidup musik Amerika, John Musiciante yang melalang negara - negara bagian Amerika akibat dicuri oleh pencuri amatir yang tak tahu bahwa gitar curiannya itu adalah milik musisi terkenal. Begitu pentingnya gitar itu, John bahkan harus menyewa Privat Investigator Bottomwise untuk membantu menemukan gitarnya. Proses investigasi yang dilakukan Bottomwise dan Brianna melalui negara - negara bagian Amerika Serikat, dari Manhattan, Seattle, Philadelphia, dan lain - lain hingga di pusat musik Blues dunia, Chicago
Slank khas Amerika muncul dalam cerita ini, merupakan kalimat berbahasa Inggris yang belum ada padanannya karena merupakan bahasa verbal sehari - hari di sana ditampilkannya apa adanya. Dihisasi adegan tembak menembak yang kerap terjadi di negara bagian tersebut membuat pembaca serasa membaca 2 novel yang berbeda genre.
Disaat yang bersamaan, nun jauh di Pulau Sumatra, kampung Ketumbi, Arsyad Amrullah bin Ahmadin Solaiman, seorang pria yang tak punya bakat sama sekali dalam bermusik, sedang mewujudkan mimpinya menjadi pemusik handal. Ia bahkan dengan bangga dipanggil dengan nama artisnya Sadman, ketimbang dipanggil dengan nama panjang itu. Bersama 4 sahabatnya, Jamindin, si kembar Tarobi 1 dan Tarobi 2, Nasa,dan Sekonder, di warung Kopi Maryati Kawin Lagi, kampung Ketumbi. Mencoba merajut asa membentuk grup musik. Orkes Melayu Kami Mau Lagi.
Dua adegan yang terpilin dalam sebuah takdir membuat cerita yang terpisah ribuan kilometer ini bertemu. Semuanya tentang kerja keras, harapan dan juga tentang musik. Sangat nikmat untuk dibaca hingga kalimat terakhir.
Kekurangan buku ini.
Lebih dari 20 lembar bagian terakhir dibuat iklan buku - buku Andrea yang telah terbit ! Menyebalkan....

Mantap... Bisa mengungkapkan pesan dalam novelnya. Lanjut Tere Liye.. hehehe
BalasHapusBuku yang menarik pastinya.
BalasHapusTerima kasih utk resensi nya pak.