Stop Berpikir Dengan Jari !!



Kecepatan berpikir tanpa menganalisa situasi, hanya berbekal teks yang terbaca, dalam komunikasi tulis, demikian menakjubkan. Apa yang dibaca, itu yang dibalas. Saat itu pupil membesar, nafas semakin cepat, dan telunjuk dibantu jempol bereaksi seketika saat membaca, melihat, atau memdengar balasan dari pesan.
.
Balasan tersebut jelas tidak mempertimbangkan berbagai macam asumsi maupun variabel lain dalam sebuah pengambilan keputusan. Sifatnya yang satu arah, membuat siapapun dalam satu kelompok misalnya, bisa mengirimkan sesuatu meski tidak berhubungan. Saat layar tergulung ke atas atau bawah, akan sulit menandai, untuk siapakah balasan itu. Lalu muncul lagi percakapan baru, tetapi dengan balasan untuk percakapan lama.

Aplikasi perpesanan (messaging) saat ini mendominasi komunikasi digital. Whatsapp, Telegram, Line, Michat merupakan salah satu dari sekian banyak aplikasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Beberapa bahkan sudah mensegmentasikan posisinya pada ceruk pasar tertentu. Ambil contoh Tinder.

Di awal kemunculannya, komunikasi berbasis teks mampu menjawab kebutuhan komunikasi secara cepat  dengan biaya murah jika dibandingkan dengan voice. Bergesernya waktu, kebutuhan komunikasi tak hanya voice semata, hingga kebutuhan data dalam jumlah besar dalam waktu singkat menjadi tak terelakkan. Maka perpesananlah yang menawarkan kedua hal itu.

Perpesanan memungkinkan kita mengirim icon - icon yang mewakili perasaan pengirim. Meski tak sepenuhnya benar karena pemahanam icon sering berbeda - beda. Sehingga saat terjadi adu argumentasi di perpesanan, tak langsung bisa dimengerti. Demikian pula penggunaan huruf kapital yang diartikan sedang berteriak, tentu tak berarti pengirimnya sedang berteriak - teriak dalam arti senyatanya. Dalam Sarcasm in Written Communication: Emoticons are Efficient Markers of Intention (Thompson dan Filik , 2016). Karena kekuatannya, Emoticon adalah upaya yang disengaja untuk menunjukkan perasaan, suka atau tidak suka, terhadap suatu hal. Padahal di dunia nyata, upaya menunjukkan perasaan seseorang secara sengaja  tidaklah se vulgar itu. Masih dalam penelitiannya, Thomson dan Filik menemukan bahwa lebih banyak ditemukan sarkasme dalam bentuk dalam komunikasi tulis dari pada komunikasi verbal  (lesan) !

Peneliti lain mengelompokkan komunikasi lewat perpesanan itu menjadi 4. Orang yang tidak suka menulis panjang sehingga menggunakan icon saja dalam komunikasi, seorang yang menulis panjang lebar untuk menjelaskan maksudnya, sesorang yang membalas seperlunya, serta orang yang tidak membalas. Dalam grup 4 jenis tersebut tak kentara keberadaannya. Orang yang diam saja tidak berarti ia setuju atau tidak setuju, sebaliknya mereka yang beragumen panjang lebar menjelaskan tak selalu lebih paham Sehingga akan sangat berbahaya mengambil suatu simpulan dari diskusi tersebut.

Maka berpikir dengan jari harus diimbangi dengan kemampuan berliterasi terhadap teks - teks sebelumnya, menganalisa dan membuat kesimpulan. Tepat apa yang disampaikan oleh Hardiman (2021), bahwa Komunikasi tertulis (dalam perpesanan) bukanlah komunikasi yang sesungguhnya, karena pesan itu tak menghadirkan raga. Ia hanya "bagian kecil" yang teserap dalam proses itu. Bagian yang disebut dengan teknologi informasi. Menurutnya, agar komunikasi tertulis itu humanis, mendekati manusia, maka ada etika yang harus dipatuhi bersama.

Tanda centang dua, adalah pernyataan bahwa ada seseorang yang membaca. Bukan eksistensi manusianya itu sendiri, yang dalam kenyataanya ia akan tersenyum sembari mengirim emoticon cemberut. Sama sekali tidak mewakili "keberadaan" dirinya.

Sby, 26/1/2021

Komentar

  1. Unik dan menarik. Perlu dijabarkan lebih lanjut--mungkin dengan tulisan lanjutan.

    BalasHapus
  2. Hebat! Bermanfaat! Terimakasih!

    BalasHapus
  3. Materinya menarik. Juga cara penyampaiannya. Ditunji dengan penelitian. Terima kasih ilmunya. saya tunggu lanjutannya. (abdisita)

    BalasHapus
  4. Unik Bung Judi....membahas Wa dan sms.....ddngan segala konsekuensinya

    BalasHapus
  5. Sebagai guru, gimana rasanya kalau info di WAG tidak dikomentari sama sekali, padahal semuanya sudah membaca?
    Bisa jadi takut kalau komentarnya salah... Hehe

    BalasHapus
  6. Mantap Pak Helmi.beliau ketua lapak literasi BBPMPSULSEL.. sudah melangkah ke genre yang lain.. biasanya beliau nulis cerpen dan pantun. Didikan dan bimbingan suhu kita prof. Khoiri, sudah melahirkan penulis lokal Makassar dan in shaa Allah ke depan akan lebih banyak lagi lahir penulis penulis handal.

    BalasHapus
  7. Artikel yang Sangat bermanfaat. Sip

    BalasHapus
  8. Kemarin Pak Helmi share ke grup kantor.. saya kira tulisan Beliau, sempat tinggalkan jejak.. tulisan ini memang sangat layak untuk dibagikan ke teman teman. Untuk mengingatkan bahwa kesalahpahaman bisa terjadi ketika jari kita salah mengetik atau lalai memperhatikan apa yg di ketik oleh jari kita.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI