Belajarnya 2 Hati
Setelah diguyur hujan lebat 1 jam, pengurus RW 5 Kapasan berhasil menghadirkan 16 anak untuk mengikuti kegiatan Sinau Bareng yang digagas oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Ketua RW bersama jajaran kelurahan mempersiapkan lokasi kegiatan itu di Balai RW. 3 orang mahasiswa penerima bea siswa Pemkot dan 2 orang guru siap menjadi tutor malam itu.
Siswa yang dihadikan beragam kelasnya. Mayoritas siswa adalah mereka yang bersekolah dilokasi di sekitar balai RW. Bukan tanpa sebab mengapa memilih balai RW untuk kegiatan, Pemerintah Kota Surabaya berharap ada nilai lebih yang diperoleh dari penggunaan balai RW selain untuk lokasi TPS saat pemilu, atau disewa untuk PAUD.
Meski telah disiapkan materi sesuai tingkatan kelas, para tutor yang terdiri dari volunteer mahasiswa dan guru diberikan kebebasan untuk memberikan materi sinau sesuai kebutuhan siswa. Mau ngaji, nyanyi, menggambar, bahkan kalau lagi bete belajar, para tutor bisa mengajak bermain dengan permainan tradisional. Pokoknya anak bahagia dan terbebas dari gawai.
Malam itu Vita, siswa kelas 4 salah satu MI yang rawan putus sekolah, didatangkan untuk ikut sinau. Nampak ia begitu tertekan dengam situasi baru itu, ia gelisah dan ogah - ogahan. Ia bahkan tak tahu nama sekolahnya. Meski duduk di kelas 4, menurut petugas kelurahan yang mendampingi, adalah anak yang memiliki kebutuhan khusus dari keluarga miskin dan broken.
Maka di awal pertemuan sengaja kami tidak menyentuh pembelajaran di sekolah sama sekali. Barangkali semacam diagnostik non kognitif. Joke seputar kehidupan mereka kami lontarkan untuk melihat respon mereka. Suasana penuh canda untuk menghangatkan dan memasuki hati anak - anak itu.
Tak mudah juga bagi saya yang biasa mengajar jenjang SMP kini harus berkomunikasi dengan 6 jenjang siswa SD sekaligus, apalagi ditambah siswa spesial, yang ternyata adik dari siswa saya 1 tahun lalu, yang juga termasuk slow learner. Jika fokus di kelas besar, maka siswa kelas kecil, yang jumlahnya lebih banyak, tanpa dikomando langsung bermain sendiri.
Setelah diketahui persebaran kelasnya, mereka dibentuk kelompok - kelompok kecil. Vita kami masukkan bersama Najwa, Dimas dan 6 anak kelas 1 dan 2 lainnya.
Celakanya, tak satupun dari kami para guru, yang pernah mengajar kelas kecil. Bahkan tutor dari mahasiswa, jadi mati kutu menghadapi mereka.
Beruntung, ada Ayya Susanti. Lagu yang semula disenandungkan oleh Iqbal langsung ditirukan oleh teman-teman kecilnya itu. Lagu ini begitu asing di telinga kami. Khawatir lagu itu liriknya mengandung ujaran - ujaran kebencian, kami browsing di internet lagu siapakah gerangan.
Lagu ini gempita dinyanyikan oleh semua anak kelas kecil. Ajaibnya, Vita juga mampu menirukannya dengan lengkap dan sempurna. Lagunya Mey Mey dan Susanti di serial Upin Dan Ipin rupanya sangat populer di Tik Tok dan telinga anak - anak itu.
Kelas besar klik dengan para tutor, langsung mengajukan pertanyaan yang mereka butuhkan.
Alhasil. Waktu 2 jam pun terasa singkat untuk pertemuan ini. Ditengah gemerisik titik hujan, salim dari mereka begitu menentramkan
Penutup.
Pertemuan ini adalah sinau bareng dua hati, mengkolaborasikan antara belajar dan bermain. Mengurangi ketergantungan terhadap gaget, serta meningkatkan kemampuan komunikasi dan sosialisasi. Berbeda sekali dengan proses belajar dan mengajar di sekolah. Maka rasa nyaman, adalah hal utama yang harus dibangun.
Sby 25/2/2023
Anak-anak yang bermasalah seperti itu biasanya punya multi problem pak Yudi sehingga diperlukan pendampingan yang ekstra juga insya Allah akan lebih banyak pahalanya bagi pendamping dan penulisnya dibandingkan dengan mendampingi anak bermasalah yang biasa-biasa saja
BalasHapusBetul sekali...
HapusPahala melimpah telah menanti Pak Yudi...
BalasHapusBarakallah...