Kutunggu AmanahMu


Penulis : Moech. Mudhofar, S.TH.I

Penerbit CV Cipta Media Edukasi
Tahun terbit 2018
Tebal 120 halaman
ISBN 978-602-478-511-6


Membaca pengantar buku kecil ini benar - benar menggugah hati. Betapa nilai kesetiaan ditunjukkan oleh Nabiyullah Zakaria kepada sang istri, saat mereka belum diijinkan untuk segera mempunyai putra hingga lanjut usia, berdua tak lantas bercerai, berpisah. Malah lebih giat lagi untuk berdoa dan berbuat kebaikan.

Secara sistematis penulis menjabarkan mengapa manusia itu harus menikah. Tak peduli apapun alasannya. Nikah adalah kewajiban. Sampai nabi Muhammad pun berkata, bahwa siapapun yang tidak menikah adalah bukan bagian dari umatnya. Tuhan telah menjamin siapapun yang menikah, rezekinya akan dicukupi. Pilihan dengan siapa, itu terserah manusia.

Banyak pelajaran dari menikah yang disampaikannya dengan bahasa yang mudah dimengerti. Latar belakangnya sebagai santri dan guru membawa pembacanya dalam sebuah penyadaran yang lembut tentang apa itu menikah, mengapa menikah dan bagaimana menghadapi gelombang pernikahan secara ilmiah dan agamis

Ia mencoba menegaskan meski secara akal manusia terlihat sulit memperoleh buah hati penyambung keturunan, jika Allah telah menetapkan, maka jadilah. Tak putus asa menjadi kata kunci pasangan ini. Betapa tidak, kala itu istri tercinta yang dinikahinya tahun 2008 itu divonis mempunyai kista di dalam kandungan yang letaknya menutupi saluran tempat bertemunya sperma dan ovarium, hingga mustahil untuk dilakukannya pembuahan.

Beragam cara mereka tempuh. Medis melalui pemeriksaan USG dan pengangkatan, maupun non medis dengan transfer energi media telur. Kedua - duanya gagal.

Cobaan tak berhenti. Kekurangan biaya pengobatan juga mendera keluarga ini. Mengingat setiap obat yang harus ditebus, harganya mahal. Gaji yang penulis terima jauh dari kata cukup. Kista ovarium biasanya hilang dalam waktu beberapa bulan, tetapi dapat menyebabkan komplikasi jika tidak hilang. Pada kasus keluarga penulis, setelah pengangkatan kista dari rahim justru tak malah hilang, karena tergolong kista yang aktif (hal 37).

Sebagai manusia, tentu Penulis juga sambat. Apa salahku ? Hingga Tuhan memberikan semua ini. Azabkah, Bala' kah, atau ujiankah ? Begitu berdosakah ia hingga air zam zam pun tak mampu membasuh penyakit belahan jiwanya itu. Sifat manusiawinya muncul. Seolah - olah perdagangannya dengan Tuhan tak ada artinya. Bagaiamana tidak, pasangan suami istri ini telah mengabdikan dirinya dengan membukan TPQ dengan tanpa imbalan sepeserpun. Ia pun mengungkit - ungkit "kebaikan" nya untuk sekedar "mengingatkan" Tuhan (hal 41).

Mirip sekali dengan sabda nabi dalam hadist Bukhari Muslim, tentang tiga orang yang bepergian lalu mereka bermalam disebuah gua. Lalu tertutuplah jalan satu - satunya pintu gua itu. Masing - masing di antara mereka menceritakan "kebaikan"nya hingga pada akhirnya atas kebaikannya itu, batu besar penutup gua terbuka

Doa yang dilantunkan tiap malam untuk kesehatan ia panjatkan dengan tulus. Sang Istripun ditengah erangan sakitnya telah memberikan ridlo bilamana Usdop, begitu ia dipanggil, untuk menikah lagi.

Ditengah upaya - upaya penyembuhan itu, ia mencoba pengobatan herbal berbahan Madu dan turunannya hingga beberapa waktu, karena biayanya masih jauh lebih murah dari pada injeksi pengendali Kista yang harganya sekali suntik Rp. 1.3 juta. Hampir seluruh jumlah gajinya waktu itu.

Hingga resensi ini ditulis, penulis telah dianugerahi 3 putri yang jelita.

Kelemahan buku :
Tidak termasuk dalam genre apapun. Bukan biografi , artikel, dan bukan pula novelet, meski di dalamnya ditemukan dialog. Pembaca hanya diajak untuk memahami kisahnya dalam memperoleh keturunan, padahal akan lebih menarik apabila cerita ini dibuat dalam bentuk cerita pendek dengan unsur - unsurnya, dimana konflik yang terjadi dapat dikembangkan menjadi sebuah realitas baru.

Buku ini adalah debut pertamanya dalam mengikuti workshop kepenulisan sehingga belum memperoleh klik dalam penyatuan ceritanya.

Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu dapat berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa rencanakan cintamu untuk siapa. (Sujiwo Tejo)

Komentar

  1. Wah..keren.mantap.. salam literasi dari www.aleepenaku.com

    BalasHapus
  2. Wiiihhh, merambah pada resensi ya...
    Terus berkarya, mas broo..👍

    BalasHapus
  3. Terima kasih Sobat... Semoga bermanfaat. Uraiannya apik... Saat menuliskannya, belum mengerti harus menggarap genre apa? Mengalir aja...

    Pokoke sae saestu buat Master Literasi 41

    BalasHapus
  4. Alkhamdlkh sy ikut terharu dg tulisan ini..... Semangat....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI