Menjaga Hati dari Baper Saat Melihat RDP DPR RI
Melihat tayangan langsung Rapat Dengar Pendapat DPR RI Rabu, 28-3-2023 , tak ada yang lebih ditunggu bicaranya selain trio Arteria Dahlan, Benny K Harman, Asrul Sani, sebagai villain, dan Mahfud MD yang dianggap Hero. Sementara yang lainnya dalam ruang Sidang Komisi 3 itu sebagai pemeran pembantu.
Kedatangan "the Professor", seolah bintang film yang berjalan di atas karpet yang dihiasi kerlip lampu blitz. Gesturnya tenang, percaya diri dalam stelan jas berdasi, dan berganti batik saat sidang selepas Magrib. Ia pun bahkan dibukakan pintu saat masuk ruang sidang.
Setidaknya ada 2 hal yang bisa di"pelajari" dalam ruang sidang anggota dewan yang terhormat itu selain substansi materi.
Pertama, ruang sidang adalah panggung dengan penonton yang luar biasa besar. Lewat stasiun TV Parlemen yang di stream oleh stasiun - stasiun televisi besar, lalu di distribusikan kembali oleh banyak akun - akun media sosial untuk di frame sesuai kebutuhan mereka. Para peserta bisa berakting sebagai korban, dan dalam kesempatan lain, bergaya bak penyelamat.
Dalam ruang sidang itu pula semua telah saling kenal satu sama lain. Mereka teramat cerdas dalam melihat dan memahami argumentasi yang dibangun oleh lawannya, hingga tak mungkinlah bersikap konyol yang justru akan memperburuk citra. Mereka saling tahu sisi gelap masing - masing. Istilah yang oleh Johan Budi disebut kekotoran.
Tinggal positioning apa yang ingin dibangun, toh semua, kata mereka, untuk kepentingan rakyat.
Kedua, dialek bahasa Indonesia yang digunakan mencerminkan kebhinnekaan. Bahasa Indonesia dialek Padang ala Arteria Dahlan, bahasa Indonesia rasa Jawanya Bambang Pacul, Sulawesinya Beny K Harman, atau Maduranya Mahfud Md. Terasa juga keacehannya Nasir Jamil, dan Luwunya Sarifuddin Sudding saat menyampaikan pendapat dan pertanyaan masing - masing. Daerah - daerah dengan intonasi suara yang keras sering dianggap ngegas dan mudah dicap sebagai provokator.
Di dalam pengawasannya sebagai mitra pemerintah, Komisi III memang harus mencari informasi sejelas - jelasnya. Membuat sesuatu perkara menjadi terang benderang, begitu istilah mereka. Teknik penggalian informasi mereka terasa seperti menginterogasi, sangat menekan, dan mengancam. Wajar, mengingat banyak yang latar belakangnya pengacara, mantan penegak hukum serta yang hanya berpendidikan sebagai sarjana hukum. Maka tak aneh saat Mahfud Md bereaksi merasa seperti copet yang dinterogasi oleh polisi.
Jadi, jangan baper aja lah...
Sby, 30-3-2023
Saya mengikuti paparan P Mahfud di komisi 3 DPR tsb. Sangat keren.
BalasHapus