PR ? Serahkan saja Sama AI nya


Pemberian PR oleh guru hingga saat ini masih kontroversial. Apalagi jika PR diberikan dengan dalih untuk memberikan penguatan dan pengayaan materi, yang tidak bisa tersampaikan pada saat jam pembelajaran.


Disisi lain, PR tambahan itu dipastikan membawa beban siswa dari sekolah berpindah ke rumah. Bahkan,  PR juga berarti tambahan pekerjaan orang tua untuk menjelaskan materi yang dimaksud. Sesuatu yang kebanyakan orang tua teramat sulit untuk melaksanakan, karena tak ada latar belakang keilmuannya. Karena kesulitan itulah, sebagian diantara mereka harus mendatangkan guru atau mengikuti kursus agar materi yang diperoleh siswa dapat dipahami. Secara natif dan kultur, di masa lalu, memberikan PR atau Tugas diluar kelas adalah bagian dari proses belajar. Ada waktu yang membatasi guru dalam mentransformasikan pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa. Kegagalan siswa dalam memahami makna suatu materi, melalui serangkaian tes, adalah kegagalannya dalam mengajar. Hingga harus dipastikan, bahwa mereka benar - benar  paham materi yang dimaksud dengan memberikan latihan berulang.


Beberapa peneliti dampak PR sepakat bahwa PR dapat diberikan apabila dapat meningkatkan life skill siswa, kemampuan mengobservasi, lalu menuliskan secara deskriptif dan memaparkannya, bukan semata mengulang materi atau “memaksakan” materi yang tidak tersampaikan di sekolah. 


Tak  bisa  dipungkiri, di lapangan banyak terjadi jam belajar yang kosong dengan berbagai alasan. Beberapa hal memang manusiawi, semisal izin sakit, atau kegiatan non akademis lainnya yang dilaksanakan di dalam jam belajar mengajar efektif, pasti memberikan dampak berkurangnya jam mengajar. Sehingga untuk mengejar ketertinggalan itu, PR menjadi jalan keluar.


Sepertinya, mulai sekarang memberikan PR atas nama apapun harus dipikirkan ulang. Begitu mudahnya  siswa di daerah yang terjangkau  jaringan internet dengan kecepatan minimum, dapat mengerjakan tugas apapun. .


Adalah AI, artificial inteligent, mampu mendisrupsi peran guru dalam mentransfer pengetahuan. Ia memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Chat Bot ini dapat melatih dirinya terhadap setiap masukan berupa teks kalimat demi kalimat. Menyusun ulang setiap informasi menjadi sebuah realitas baru.


Tak hanya mampu mengolah teks, menjadi teks baru berikutnya, AI juga mampu membuat gambar berdasarkan syarat - syarat yang diberikan.Sehingga image yang di generate oleh AI pada akhirnya menghasilkan gambaran baru. Bahkan suasana taman di kerajaaan Majapahit ratusan tahun lalu dapat digambarkan secara detail berdasarkan masukan yang diberikan dari isi prasasti tertentu. Demikian juga untuk hasil video.

Berbeda dengan mesin pencari yang hanya menampilkan informasi yang diindeks berdasarkan kesesuaian pencarian terbanyak. AI mampu memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan kepadanya, bahkan dengan pertanyaan yang kompleks sekalipun.


Berikut salah satu contoh PR yang sengaja saya berikan ke siswa Buatkan makalah tentang negara Myanmar, Khususnya tentang politik dan ekonomi.


Pertanyaan yang rumit. 

Dan Ini hasilnya


Meski masih kasar, hasil  itu  seharusnya dianggap sebagai draft, sehingga bisa dikembangkan lebih lanjut. Inilah sebetulnya momen bagi siswa untuk mengolahnya lebih lanjut dengan temuan - temuannya sendiri saat melakukan riset berikutnya. 


Kecerdasan ini terus disempurnakan oleh pembuatnya dengan tujuan mempermudah kehidupan manusia. AI hanyalah alat. Bukan sebuah hasil akhir. Pada akhirnya tetap manusia yang harus memilah dan memilih, berdasarkan keilmuan yang dimilikinya, setiap informasi yang diberikannya. Maka jika PR hanya sekedar pertanyaan “biasa”, maka serahkan saja pada AI-nya


Sby, 16/03/2023


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menafsiri dan Mengamalkannya Pancasila Secara Kekinian

Membangkitkan Si Tua dari Kematian

FIXED, JANGAN GUNAKAN MICROSOFT TEAMS DI KOMPUTER JENIS INI